Ketika Omongan Murid sama Seperti Omongan Netizen

Guru merupakan contoh bagi murid-muridnya. Menjadi guru harus bernampilan rapi dan menarik, untuk itu seorang guru harus memperhatikan fashionnya dan mungkin barang-barang yang dipakainya.
.
.
Beberapa bulan silam muridku menyindir temanku, “Umi, umi kok gak pernah bawa tas. Umi gak punya tas ya ?
Kami langsung tertawa, lucu rasanya anak seumuran dia bisa memperhatikan gurunya sampai sebegitu detailnya. Padahal kamu tuh lelaki loh.
.
.
Gak sampai disitu, ternyata beberapa hari yang lalu dia juga menyindirku masih dengan perkara yang sama, “Umi, umi tasnya kok itu-itu aja ? Umi gak punya tas lagi ya ?
.
.
Haha pengen ku cubit pipinya yang tembem itu sangking gemesnya. Untungnya dia hanya mengomentari soal barang-barang seperti tas, baju. Kalo sempat dia bertanya “Umi, umi kok gak punya pacar ? Umi jomblo ya ?

Haduhh bingung akutuh jawabnya..

Iklan

Ketika Wisuda Dipercepat

Kemarin aku dan teman-temanku berdiskusi di depan ruang prodi , kami membahas masalah nilai yang tak keluar di semester lalu.
Tenang.. Itu bukan nilaiku.

Kemudian tak berapa lama, ketua prodi lewat dan salah satu temanku bertanya, “Pak, judul kapan di ACC ?
Nanti bulan 7,” jawab si bapak dengan santai.
Sontak kami terkejut dan terheran-heran mendengar jawaban si bapak.
Kami mengeluh, “Loh pak, kok lama kali
Dia terkekeh dan bilang, “Gaklah, yang gelombang pertama paling 10 hari lagi, yang gelombang kedua mnungkin pertengahan bulan 2
Ini masih bisa ngajukan kan pak ?
Bisa dong.. Makanya kalian cepat ntar bulan 5 kita udah sempro (seminar proposal),” jawabnya.
Kami sempat protes, “Loh kok bulan 5 pak ? Bukannya tahun lalu sempro sama sidangnya di bulan 12? Terus KKNnya gimana ? Apa kami sempro dulu baru KKN ?
Ya iya, sempro dulu baru KKN, nanti sidangnya bulan 11

Dan…
Jantungku terasa nyut-nyutan mendengar informasi itu. Setelah dijelaskan panjang lebar kami mengerti kenapa sekarang dibuat seperti itu.
Intinya jangan sepele dengan waktu, jangan bersantai-santai karena perjuangan yang sesungguhnya akan segera dimulai !

Padahal rasanya baru kemarin jadi MABA, nah sekarang sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir saja.

Semangat buat para pejuang skripsi 💙

Binjai, 09 Januari 2019

-Silvi Aulia

Assalamu’alaikum 2019

Hanya tinggal hitungan jam, tahun baru akan segera dimulai. Ku harap aku bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi di tahun-tahun selanjutnya. Terutama di 2019 ini, banyak sekali yang ingin ku capai. Salah satunya bisa menyelesaikan pendidikan S1 ku. Semoga Allah memudahkan. Aamiin

#siapwisuda2019


Maaf, Aku Pamit…

Jika kemarin aku membanggakan dirimu, mengagumi kamu, menceritakan segalanya tentangmu, maaf ku rasa sudah saatnya aku untuk pamit. Melihat kejadian siang tadi membuatku ingin melupakan segalanya. Melupakan kamu !

Salahku jika aku terlalu dini menaruh harapan padamu, tak semestinya kulakukan itu. Seharusnya aku sadar diri, kamu hanya bersikap sopan padaku, bukan ada maksud apapun. Akunya saja yang terlalu baper !

Kecewa ???

Memang aku siapa ? Memang aku bisa apa ? Mana mungkin aku melarangmu untuk tidak berboncengan dengan wanita lain. Aku hanya pengagum rahasiamu, bukan pemilikmu. Kejadian itu masih membayang di benakku. Tak ada yang bisa kulakukan selain berhenti mengharapkanmu. Kuyakin Allah sedang mempersiapkan seseorang yang lain untukku.

Maaf, aku pamit untuk menjadikan diriku lebih baik lagi.

Aku pamit untuk membiasakan diriku agar tak menaruh harapan yang berlebihan pada siapapun !

Aku pamit untuk mengajari diriku agar tak terlalu baper dengan senyuman ! Karena sejatinya senyum adalah sedekah. Jadi anggap saja dia sedang sedekah !

Lebih baik ku rangkai saja kisah kelam ini menjadi tulisan-tulisan indah agar kelak dapat kubaca dan ku jadikan pelajaran yang berharga.

Semoga kau bahagia, dan semoga aku segera menemukan kebahagiaanku.

-Dari aku, yang pernah mengagumimu..


Good Bye 2018, Assalamu’alaikum 2019..

Apa yang kalian lakukan untuk menghabiskan malam pergantian tahun ?

Kalau aku, tak ada yang bisa kulakukan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya hanya berbaring manis di kasur sambil mendengarkan suara-suara petasan yang memekakkan gendang telinga.

Semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini..

Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama keluargaku setiap malam pergantian tahun. Entah kami hanya berkeliling-keliling menikmati keramaian di kota, atau sekedar makan malam di luar. Tak mesti tempat makan yang mewah, yang terpenting bisa menikmati makanan bersama.

Seperti halnya tadi yang kami lakukan. Kami hanya keluar untuk makan Misop kampung. Karena Bundaku sangat menyukainya. Namun, kami tak bisa berlama-lama karena sudah ada yang menunggu di rumah.

Abangku datang bersama istri dan calon anaknya. Tak ingin abangku menunggu lama, kami langsung bergegas untuk pulang.

2019, Insya Allah kami mempunyai anggota baru. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya, aku juga tak sabar ingin cepat di panggil Aunty.. Doakan semoga anggota baru kami sehat, begitupun dengan Ibunya. Semoga kelak dia bisa menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, yang bisa mengantarkan orang tuanya ke surga. Aamiin

2019, Insya Allah pendidikan sarjanaku selesai. Doakan juga semoga aku kuat menjalani status sebagai Mahasiswi Tingkat Akhir.

Mungkin kau pernah berada di posisiku sekarang ? Menjadi Mahasiswa/Mahasiswi tingkat akhir ? Bisakah kau berbagi pengalaman padaku ? Atau bisakah kau memberikan tips kepadaku ? Bagaimana seminar proposal itu ? Bagaimana sidang meja hijau itu ? Kata orang-orang itu sangat menyeramkan. Apa iya ?

Ahh membayangkannya saja sudah membuatku ngerih.

Tapi aku tak boleh pesimis, aku pasti bisa !

Semoga tahun ini segala keinginanku akan segera tercapai.

Welcome 2019

Binjai, 31 Desember 2019

22:50 WIB

Hari terakhir nulis di 2018, semoga tahun depan bisa tetap istiqomah untuk nulis.

Aamiin…

Rumah Pohon Habitat, Langkat

Jika ditulisan sebelumnya aku menceritakan tentang Danau Toba dan Simarjarunjung, maka kali ini aku akan menulis tentang liburanku ke Rumah Pohon Habitat yang terletak di Desa Perteguhan Kabupaten Langkat.

Bukan menulis untuk mereview tempat atau lokasi, atau apalah. Hanya ingin membagi kisah perjalananku bersama teman-temanku. Atau istilahnya curhat gitu lah yaa. Hehe

Kami pergi pada hari sabtu tanggal 22 Desember 2018, tepat pada hari Ibu. Kebanyakan orang pada hari itu akan menghabiskan waktu dengan Ibu mereka. Sedangkan kami malah membuat Ibu kami khawatir. Karena kami pergi hanya berempat, dan itu cewek semua. Pahamkan gimana rasanya seorang Ibu melepaskan anak gadisnya pergi ke tempat jauh yang tak ada seorang lelaki pun yang akan melindunginya. *maaf jika sedikit lebay

Bisa dibilang, sebenarnya kami merencakan perjalanan ini cukup lama. Namun dikarenakan jadwal yang padat, dan aku sendiri pesimis dikasih izin atau tidak untuk pergi kesana, akhirnya kami menunggu sampai waktunya pas.

Dan akhirnya, ku beranikan diri untuk meminta izin kepada orang tuaku, dan Alhamdulillah responnya sangat baik. Aku dikasih izin untuk pergi. Langsung dengan cepat ku kabari teman-temanku, dan mereka dengan senang hati menerima kabar ini. Kami langsung mengatur jadwal kapan akan berangkat.

Tak ada percakapan yang berarti setelah itu. Bahkan aku sempat ragu apakah kami jadi berangkat atau tidak.

Kampus, 21 Desember 2018

Ketika hendak pulang ku sempatkan bertanya kepada temanku,
Besok jadikan we ?
Jadi, jam 9 ya kumpul di rumahku,” jawab temanku.
Oke. Pakai baju apa ?” aku selalu menanyakan ini kepada siapapun ketika hendak pergi kemanapun. Bukan apa, hanya ingin menyesuaikan biar gak salah kostum.
Pakai gamis ya, soalnya aku gak dikasih pakai celana,” jawab temanku yang satunya.

Jujur aku sempat kaget mendengarnya, “Masa iya berlibur ke tempat yang gituan pakai gamis,” gumamku dalam hati. Namun langsung ku iyakan saja, mengingat memang begitu aturan berbusana bagi wanita dalam agama kami. Harus tertutup.

Dan sampailah hari keberangkatan kami, seperti biasa aku yang selalu on time. Padahal dihari sebelumnya aku meminta salah satu temanku untuk menjemputku terlebih dahalu sebelum kami berkumpul. Namun itu berubah dikarenakan setengah jam lebih aku menunggu, tak ada yang menjemput. Kabar terakhir yang ku dapat, temanku baru mau mandi, yang satu masih sarapan, yang satunya lagi tak ada kabar.

Jujur, aku mulai jengkel. Tapi memang begitulah mereka, selalu ngaret ketika hendak pergi kemanapun. 1 jam berlalu, akhirnya ku putuskan untuk menjemput salah satu dari mereka biar tidak kelamaan. Temanku juga sudah selesai sarapan, dan dia juga akan menjemput temanku yang satunya.

Akhirnya kami berkumpul menunggu Princess yang masih juga belum siap. Yang awalnya janjian pergi jam 9 malah ngaret hampir 2 jam lebih.

Kami memulai perjalanan kami dengan mengendarai sepeda motor dan saling berboncengan. Baru 5 menit, kami sudah terpisah jalan. Dikarenakan temanku mendahului sebuah mobil yang berada di depan kami, sedangkan aku sama sekali tak punya nyali mendahuluinya karena jalanan yang cukup sempit. Sampai dipersimpangan jalan aku kebingungan mencari temanku yang di depan tadi. Setelah berdiskusi dengan teman seboncenganku, kami memutuskan untuk berbelok saja. Kami terus menelusuri jalanan, namun tidak ada tanda-tanda mereka melewati jalanan itu.

Aku menghubungi mereka lewat ponsel temanku, dan kami janjian untuk bertemu di salah satu pom bensin terdekat. Setelah bertemu ku teriaki mereka, “Lihat-lihat lah yang belakang.” Mereka dengan serentak menjawab “Iya.”

Kami melanjutkan perjalanan, agar tak merasa bosan terkadang kami mengobrol. Namun pernah sekali temanku tak merespon apa yang kukatakan, dan ternyata dia mengaku sempat tertidur di atas motor *kok bisa ya ?

Tak terasa jalanan yang kami lewati sudah memasuki jalanan yang bebatuan. Kami hampir sampai. Perjuangan di mulai !

Dengan lafadz Basmallah dan modal nekat aku terus melaju dengan sepeda motorku, tak peduli dengan jalanan yang semakin menanjak dan banyak bebatuan yang besar dan tajam. Rasa dingin mulai menusuk, namun tak menyurutkan semangat kami untuk sampai di puncak.

Karena jalanan yang licin dan ditambah lagi kakiku yang tak sampai menginjak ke tanah membuat ban motorku beberapa kali keluar dari jalurnya. Jujur aku panik, takut kalau kami terjatuh. Begitu juga dengan temanku, dia langsung saja melompat dari atas motor yang membuat motorku menjadi oleng. Setelah itu kami tertawa ! *inilah cara kami untuk menghilangkan kepanikan sejenak

Kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan, tinggal selangkah lagi kami sampai puncak. Melihat jalanan yang semakin menanjak, aku sempat ragu. Apakah apakah aku dan motorku bisa melewatinya ? Aku takut !

Lagi-lagi dengan lafadz Basmallah dan semangat dari teman-temanku, aku bisa melewatinya. Dan horee kami sampai puncak…..

Kami langsung menaiki anak tangga dan mencari tempat duduk. Ternyata di atas aku bertemu dengan teman lamaku yang juga sedang berlibur di sana. Ku sapa dirinya dengan memanggil namanya dan melambaikan tanganku, dia hanya tersenyum. Setelah menemukan tempat duduk, ku bongkar isi tasku dan mengeluarkan semua perbekalan kami. Namun ternyata eh ternyata seisi tasku ketumpahan sambal, semuanya !

Ingin marah, tapi rasanya untuk apa ? Lebih bagus aku menikmati ciptaan Allah yang luar biasa ini. Oke, masalah sambal sudah ku lupakan. Seperti orang-orang kebanyakan, kami melakukan selfie. Ditengah sesi pemotretan, teman lama yang ku sapa tadi menghampiriku.
Kalian cuma berempat sil ?” ucapnya sambil melangkahkan kaki kearahku.
Iya,” jawabku singkat.
Hebat kalian ya, cewek semua bisa sampai ke sini.”
Oh iya dong. Kami kan wanita tangguh,” jawabku dengan bangga.

Kami melanjutkan foto-foto, dan dia pun pergi. Setelah lelah berfoto, kami makan. Kami sama sekali tak ingat bagaimana caranya pulang nanti dengan kondisi jalan yang seperti itu.

Hari semakin sore, kami putuskan untuk segera turun. Untungnya jalanan tak separah tadi. Jika tadi jalanan menanjak, maka ini kebalikannya. Hanya perlu kewaspadaan dan lebih banyak bermain dengan rem. Karena kalau tidak, bisa kebablasan nanti.

Kami singgah ketempat yang sebelumnya sudah kami lewati tadi. Tempat itu gak kalah menarik untuk berselfie ria. Kami mencoba beberapa spot untuk berfoto.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang. Namun tak disangka-sangka musibah datang menghampiri. Ban motor temanku bocor, karena lelah mendorong akhirnya dia paksakan untuk dikendarai saja. Sementara motorku, harus mengangkut tiga penumpang (di daerah kami bahasanya tarik tiga, untung tak ada yang mengatain kami cabe-cabean) *wkwk

Akhirnya kami menemukan tukang tambal ban, setelah menunggu beberapa lama motorpun siap untuk dikendarai kembali. Kami melanjutkan perjalanan dengan sisa tenaga. Sampai di Binjai kami singgah sebentar ke warung bakso. Mengisi tenaga sekalian mengistirahatkan motor kami.

Ini merupakan pengalamanku yang pertama kali pergi liburan membawa motor sendiri dengan kondisi jalan yang seperti itu. Beberapa temanku hampir tak percaya kami senekat ini, tapi aku merasa bangga karena berhasil menjaga kepercayaan orang tuaku. Jadi untuk liburan selanjutnya aku bisa dikasih izin terus. Hehe

Next Trip, Kemana Kita ???

Terimakasih telah membaca ceritaku yang super panjang ini.
Semoga kalian tak jenuh ya.

Aku juga membuat video singkat perjalanan kami, bisa di cek di instagramku di @silvi.aulia18 (sekalian promo, wkwk)

Binjai, 30 Desember 2018

22:50 WIB

Tentang Rindu

Tentang Rindu
By : Silvi Aulia >< Evi Faouziah

Senyummu..
Pada mulanya tatapan itu tertuju padaku..
Awalnya biasa..
Namun sekejap berubah..
Seolah begitu banyak mawar yang bermekaran dalam hati..

Perlahan..
Hari demi hari senyummulah yang menghiasi hidup ini..
Ia hadir memberi warna yang amat berarti..

Hingga khayalan mulai menghampiri..
Yang inginku berharap selalu melihat senyum indah itu..
Hingga akhirnya..
Sang pemilik senyum indah pergi berlalu..

Inginku cegah kepergianmu..
Namun ku yakin.. Jika itu miliku, ia pasti kmbli..
Sebab ..
Ku rindu…..
(Evi Faouziah)


Di dalam hati ini bersarang rindu yang entah pada siapa ia akan berlabuh. Rindu yang tak bertuan, yang tak pernah kuharapkan sebelumnya.

Entah berapa banyak kata rindu yang ku tuliskan, ia seperti tak ada habisnya menghujani setiap langkahku. Tapi aku menikmatinya, sungguh sangat menikmatinya.

Hari demi hari, rindu ini semakin memuncak. Bayanganmu pun mulai menghampiriku. Inginku menari bersama bayanganmu, namun ku tak bisa. Kau hanya mampir, enggan untuk singgah apalagi menetap.

Aku bisa apa ???

Tak ada yang bisa kulakukan selain mendo’akanmu, meminta mu kepada Sang Pencipta.

Semoga kau lekas kembali, karena disini ada rindu yang menanti.

(Silvi Aulia)

Binjai, 29 Desember 2018
-Dari Kami, Si Pecinta Biru Penikmat Senja

Senyum Bikin Baper

Awalnya aku tak mengenalmu, kita sama sekali tak pernah bertemu. Aku tak pernah menyadari kau ada. Sampai akhirnya, kita dipertemukan.

Awalnya aku cuek, namun seiring berjalannya waktu mata kita saling pandang, dan untuk pertama kalinya kau menyunggingkan senyum dari bibir indahmu. Aku tak merespon, karena ku fikir mungkin kau sedang senyum dengan orang lain, mungkin ada orang lain di belakangku yang juga sama lewat dijalan itu. Namun setelah mencari-cari, aku sadar, aku hanya sendirian lewat di jalan itu. Tak ada siapapun. Berarti kau……..

Setelah kejadian itu, kita bertemu lagi. Seperti biasa, kau tersenyum padaku. Untuk pertama kalinya ku balas senyum itu. Dan setiap kali bertemu kita selalu berbalas senyum.

Lama kita tak bertemu, dan aku mulai mencari-carimu. Ada rasa penasaran yang muncul dalam diriku. Kemanakah dirimu ? Tanpa sadar, aku mulai memikirkanmu.

Dihari dimana aku memikirkanmu, tanpa sengaja kita bertemu. Kau mengenakan sarung, baju koko lengan panjang dan peci hitam di kepalamu, yang membuat aku semakin mengagumimu. Dengan lembut, kau sapa aku dengan senyumanmu. Dan anehnya, aku mulai memimpikanmu.

Pernah sekali, aku lewat depan rumahmu dan terus memandanginya berharap bisa bertemu denganmu. Namun ku dapati rumah itu sepi seperti tak berpenghuni. Ku lemparkan pandanganku ke arah lain. Dan ternyata kau tepat berada di depanku, kita berpapasan jalan. Kau tersenyum, entah karena kau melihat aku yang tadinya memandangi rumahmu, atau entah karena memang kau ingin menyapaku. Tapi yang pasti, aku benar-benar malu. Mungkin pipiku memerah saat itu. Entahlah….

Tapi sekarang, kita kembali jarang bertemu. Aku lebih sering melihat motormu daripada bertemu dengan si pemilik motor. Tapi tak masalah, aku hanya berharap semoga kau baik-baik saja. Karena ku tak ingin berharap lebih, dan bahkan aku juga takut jika aku menaruh harapan kepadamu. Karena sejatinya hanya kepada Dia-lah pantasnya manusia berharap.

Binjai, 28 Desember 2018
-Dari Aku, Penikmat Senyummu 🙂

Rindu, Boleh ?

#9 Sekar & Dewa : Move On

Aku tak tau lagi bagaimana caranya menghapus rindu ini. Bertahun-tahun berlalu, aku masih saja merindukannya, memimpikannya, sampai akhirnya dengan tekad yang kuat aku mencoba untuk menstalk akun medsosnya.

Ternyata dia sudah menemukan penggantiku. Namun aku, aku masih saja sendiri. Aku masih belum bisa membuka hatiku untuk lelaki lain. Aku tidak berani untuk memulai hubungan dengan lelaki baru.

Setelah sekian lama aku berdamai dengan hatiku sendiri, ku putuskan untuk MOVE ON ! Tapi bukan dengan cara mencari penggantinya, melainkan dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi Cinta. Karena ku yakin DIA telah menetapkan yang terbaik untukku. Dia akan memberikanku seseorang yang jauh lebih baik dari Dewa.

Aku mulai tersadar, bahwa apa yang selama ini aku lakukan salah. Aku berharap bukan kepada Sang Maha Pengabul Harapan, aku berharap kepada manusia yang tak ada apa-apanya.

Sejak saat itu aku bertekad untuk melupakan Dewa ! Aku menghapus kontaknya, dan memblokir semua sosial medianya.

Dan ternyata, cara itu benar-benar ampuh. Perasaanku ke Dewa sudah tidak seperti dulu, hanya seperti teman biasa.

Memang sebelum aku memblokir sosmednya, dia pernah bilang :

“Siapa pacarnya sekarang ?”

“Gak ada, gak mau pacaran lagi.”

“Kenapa ?”

“Gak papa.”

“Kalo pacaran sama aku lagi mau gak ?”

“Kalo kamu kembali hanya ingin mengajakku pacaran kembali, aku gak mau. Aku mau nyari yang serius, bukan yang suka selingkuh,” jawabku tegas.

Aku hanya tak ingin terjerumus ke dalam lubang yang sama. Aku memilih untuk sendiri sampai aku benar-benar siap. Aku hanya ingin fokus ke pendidikanku dulu. Aku tak membenci Dewa, juga tidak dendam kepadanya. Aku hanya ingin melupakan kisah pahit yang kualami.

Dan sekarang aku sudah bisa melupakan kisah itu, meskipun tetap saja aku tak bisa melupakan Dewa dari ingatanku, karena dia bagian dari sejarahku.

“Aku Sekar, dengan ini menyatakan bahwa sekarang aku sudah Move On !”

~THE END~

Binjai, 08 September 2018

21.05 WIB

Dari aku yang sudah move on

#8 Sekar & Dewa : Rindu

Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, ditambah lagi kesibukanku menjadi mahasiswi baru di salah satu universitas swasta membuatku bisa melupakan Dewa sejenak.

2 bulan berlalu tanpa ada kabar darinya. Hari itu aku pulang dari kampus lebih awal, ku sempatkan singgah ke Taman Senja hanya untuk sekedar mengenang masa lalu.

“Tempat ini akan menjadi saksi bisu betapa manisnya pertemuan pertama ku dengan Dewa. Dan sekarang aku kembali ke tempat ini dengan perasaan pedih dan kecewa karena Dewa telah menghancurkan semuanya,” bisikku dalam hati.

Tak terasa air mataku mengalir, namun cepat-cepat ku hapus karena aku tak ingin terlihat mataku sembab seperti terkena tonjokan.

Aku mulai berjalan dan mengitari taman ini, sampai tibalah aku di tempat pertama kali aku bertemu dengan Dewa. Tempat ini sama sekali belum berubah masih sama seperti 3 tahun lalu.

“Dewa, aku rindu,” bisikku lirih.

Akhirnya ku putuskan untuk pergi dari taman itu. Langkah kakiku terasa berat karena rindu yang memuncak. Handphone ku bergetar, ku lihat notifikasi di layar Dewa mengirimiku pesan chat lewat akun sosial medianya.

“Hai Sekar, apa kabar?”

Jantungku berdebar, ku tak percaya itu pesan dari Dewa. Aku merasa rinduku terbayar sudah. Dengan sok jual mahal aku membalas :

“Baik.”

“Ternyata kamu gak berubah ya, masih sama seperti dulu. Cuek 😄”

“Tumben ngechat, ada apa?”

“Kangen aja.”

“Oh.”

Dalam hati ku berkata, “Aku juga kangen. Pake banget malah.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang berarti. Sampai akhirnya pada suatu malam tiba-tiba dia mengirim pesan singkat

“Kamu tau kenapa aku ngelakuin semua ini ke kamu ?”

“Ngelakuin apa ?”

“Menduakanmu.”

“Oh. Kenapa ?”

“Karena aku baru sadar ngejalani hubungan jarak jauh itu gak gampang.”

“Bukannya dulu kamu yang yakinkan aku kalo ini bakalan mudah?”

“Iya aku tau, aku minta maaf :(“

Jujur aku kecewa dengan jawabannya, kalau memang sudah lelah ngejalani hubungan jarak jauh kenapa harus dengan cara selingkuh ? Kenapa gak jujur aja dari awal ? Sebenarnya banyak sekali yang ingin ku tanyakan, namun ku takut lukaku semakin melebar. Akhirnya kuurungkan niatku, aku tak menanggapi pesannya lagi.

Seiring waktu berjalan aku mulai terbiasa sendiri, meskipun masih terselip rasa rindu yang kadang membuatku tak betah. Aku juga masih sering memimpikannya, yang membuatku semakin merindukannya.

Aku takut untuk mengungkapkan perasaanku bahwa aku rindu !

Karena dia bukan siapa-siapaku lagi. Dia hanyalah sebagian dari masa laluku yang ingin kulupakan. Namun nyatanya aku tak bisa !

≈≈≈

Cerbung Sekar & Dewa episod 8

Binjai, 08 September 2018

20.30 WIB

#7 Sekar & Dewa : Sweet Seventeen yang Mengecewakan

Malam itu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Pipiku masih basah dihujani air mata, mataku sembab seperti habis ditonjok. Aku masih memikirkan Dewa yang begitu tega menyakiti hatiku. Padahal hubungan kami sudah hampir masuk tahun ketiga.

Dia sama sekali tidak ada menghubungiku lagi hanya untuk sekedar meminta maaf atau mengakhiri hubungan kami. Dan aku juga tidak berani mengambil keputusan dalam keadaanku yang sedang emosi. Aku hanya ingin tahu secara detail alasannya menduakan aku.

Sampai beberapa hari kemudian, dengan tegar aku mengiriminya pesan singkat meminta maaf karena selama ini aku tak bisa membahagiakan dia. Jujur aku sangat mencintainya, hatiku memang sakit namun aku tak ikhas untuk melepaskannya begitu saja. Aku memilih untuk memaafkannya dan melanjutkan hubungan ini, toh dia juga sudah memutuskan hubungan dengan selingkuhannya itu. Tidak, lebih tepatnya wanita itu yang mundur karena merasa bersalah telah membuat hubungan kami menjadi berantakan.

BODOH!!!

Itulah penilaian orang-orang terhadapku. Aku tau keputusan yang aku ambil ini bodoh, tapi itulah Cinta mengalahkan Segalanya. Bukan hanya itu, sebentar lagi ulang tahunku tiba, aku hanya ingin seperti mereka yang merayakan Sweet Seventeen dengan pacar.

Akhirnya hari yang ku nanti tiba. Aku sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahunku. Aku mengundang teman-teman ku, dan tak lupa aku menyuruh Dewa datang.

Tapi apa yang terjadi ???

Semua teman-temanku sudah datang tapi Dewa tak kunjung hadir, bahkan sampai acaraku selesai. Ku kira Dewa akan datang, namun nyatanya dia mengecewakanku untuk yang kedua kalinya!

Bahkan dia juga tidak ingat hari ulang tahunku !

Dengan tangan gemetar ku ambil handphone ku dan aku mulai mengetik …

“Udah gak datang, gak ngucapi juga. Kecewa kali rasanya. Makasih banyaklah ya buat semuanya.”

“Maaf Sekar, aku sibuk. Lagian jarak kita juga jauh. Sekarang aku pasrah Kamu maunya apa.”

“Kita udahan aja ya :).”

“Baiklah, jika itu maumu. Aku terima semua keputusanmu.”

Air mataku langsung jatuh, aku tak percaya Dewa memberikan respon seperti itu. Dia sama sekali tidak mempertahankanku, dia melepaskanku begitu saja.

“Ohh Dewa.. Kenapa kau tega sekali,” pekikku dalam hati.

Aku hancur!

Aku terluka!

Bukannya merayakan Sweet Seventeen dengan pacar, aku malah putus dengan pacarku.

Tapi aku sadar, ini keputusanku. Aku harus bisa menerimanya. Sejak saat itu aku tidak pernah menghubunginya lagi !!!

≈≈≈

Cerbung Sekar & Dewa Episod 7

Akhirnya setelah sekian lama berdamai dengan hati, aku memutuskan untuk melanjutkan cerita ini.

Binjai, 08 September 2018

14.55 WIB

Blog di WordPress.com.

Atas ↑