COFFEEBOOK (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖Part 3 (Full)📖☕

.

.

Azura menjadi rajin menjalankan puasa sunah hari senin dan kamis untuk menahan nafsunya. Ia pun selalu menjaga wudu agar tak bersentuhan dengan lawan jenis. Meski terkadang teman-teman lelakinya dengan sengaja menjahili. Mereka senang duduk di sebalah Azura dan melakukan gerakan seperti ingin menyentuh tangannya. Membuat gadis itu refleks menyembunyikannya di balik kerudung yang ia kenakan.

“Bang Iyan, tolong, deh, jangan dekat-dekat! Azura masih ada wudu, nanti batal kalau kesenggol,” ucapnya pada lelaki yang memiliki posisi sebagai Komisariat Mahasiswa (Kosma).

“Kalau batal, ya, tinggal ambil lagi. Di kamar mandi banyak air, kok!” jawabnya tanpa rasa bersalah.

Sebagai kosma, lelaki yang umurnya terpaut jauh dengan Azura itu sering duduk berpindah-pindah. Tergantung posisi mana yang membuatnya nyaman. Selain itu, memang sudah menjadi tugasnya juga untuk dekat dengan semua anggotanya agar lebih mengenal dan mampu bekerja sama.

“Tumben Abang duduk di depan? Biasa juga di belakang,” tanya Azura penasaran.

“Pagi ini mata kuliah Fikih Munakahat. Pembahasannya bakalan seru, sayang kalau sampai dilewatkan. Di belakang suka nggak fokus.”

“Kan Abang sudah berpengalaman. Emang pengen munakahat lagi?”

“Ya, kalau diizinin sama Kakakmu! Haha,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ih, bakal Azura aduin ke Kakak, loh!”

“Bercanda! Mana mungkin Abang menduakan Kakakmu. Walaupun wajah Abang ganteng, tapi Abang orangnya setia, kok!”

Belum sempat Azura menjawab, sang dosen datang untuk memulai kelas pertama. Fikih Munakahat menjadi mata kuliah favorit. Di sini mereka bebas membahas apapun tentang pernikahan bahkan sampai keperceraian.

“Pacaran setelah menikah itu enak, loh! Serius! Pegangan tangan saja, bisa membuat dosa kita berguguran. Sedangkan pacaran sebelum halal lalu kita berpegangan tangan, malah pahala kita yang berguguran! Panik nggak, tuh?”

Mendengar penjelasan pria berusia 30 tahunan itu, Azura bergumam dalam hati, Masyaallah! Indah betul, ya, pacaran setelah halal.

“Makanya, bagi yang masih pacaran, cepat halalkan! Bagi yang masih jomlo, ya, tahankan!” lanjutnya yang disambut sorak-sorai seisi kelas.

“Karena sebenarnya, pacaran itu dilarang! Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina. Nah, mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya!”

Beliau melanjutkan lagi dengan menjelaskan berbagai macam zina seperti yang tertulis dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim.

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan.”

Tak lupa juga ia menjelaskan apa saja hukuman bagi orang yang berbuat zina sesuai yang tertera dalam Al-Qur’an, surah An-Nur ayat 2.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera, masing-masingnya seratus dera dan janganlah kamu kasih sayang terhadap keduanya, dalam (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dam jari kemudia. Hendaklah hadir ketika menyiksa keduanya satu golongan di antara orang-orang Mukmin.”

Jelas, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Kebaikan sekecil apapun pasti Tuhan akan balas, begitu juga dengan kejahatan. Tiba-tiba saja ia teringat masa-masa kelamnya dahulu. Bukan hanya berpegangan tangan, kecupan di bibir pun selalu ia dapatkan dari Arman.

Astagfirullah al-‘azim!

***

Azura merasa dirinya aman setelah memblokir semua kontak Arman. Namun, ternyata dia salah. Arman masih saja mengganggunya. Dia berusaha mendatangi gadis itu di kampus dan menunggunya di pintu masuk. Kali ini dengan membawa boneka beruang yang besar berwarna biru—benda yang selalu diidam-idamkan Azura.

Beberapa bulan ini, Arman merasa hampa tanpa kehadiran Azura. Dia menyadari bahwa hanya Azura lah yang bisa memahaminya, yang mudah juga untuk dikelabui. Baginya, Azura adalah pribadi yang sangat polos. Berbeda dengan wanita-wanita yang ditemuinya di luar sana. Mereka ahli dalam bercinta dan sudah berkali-kali gonta-ganti pasangan.

Melihat Azura yang baru turun dari angkutan umum, Arman langsung mencegatnya.

“Ra, please! Kasih kesempatan aku untuk bicara,” pintanya dengan nada memelas.

Azura sudah tak dapat mengelak lagi. Kemarin-kemarin dia masih bisa menghindar dari Arman. Namun sekarang, lelaki itu sudah berada di hadapannya. Dia memilih untuk mendengarkan Arman berbicara dan melewatkan jadwal mata kuliah pertama. Mereka berjalan bersisian menuju sebuah warung bakso yang masih tutup.

“Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu, Ra. Kita kembali seperti dahulu lagi, ya,” ucap Arman, memulai pembicaraan.

“NGGAK!” jawab Azura, tegas.

“Tapi, Ra ….”

“Sekarang mending kamu pergi dari sini!” potong gadis berkaca mata itu, “aku sudah nggak mau pacaran dengan siapapun lagi, termasuk kamu! Aku nggak mau terus-terusan berbuat dosa.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Dasar, sok alim!” umpat Arman. Dia tak lagi tahan mendapat penolakan terus-menerus dari Azura. Padahal, niatnya sangat baik—ingin memperbaiki hubungannya dengan Azura.

PLAK!

Untuk kedua kalinya, Azura menampar pipi kiri lelaki yang dahulu sangat dicintainya itu karena merasa tak terima dengan apa diucapkan barusan. Arman lebih tak terima lagi dengan kelakuan Azura yang berani menamparnya. Dia menarik ujung kerudung Azura, membuat gadis itu hampir tersungkur. Untung saja tindakan Arman ini tak membuat kerudungnya lepas.

Arman tersenyum sinis.

“Oke! Mulai sekarang aku nggak akan ganggu-ganggu kamu lagi, tapi lihat saja, suatu hari nanti aku akan kembali lagi dan membalas perbuatanmu!” ancam Arman seraya meninggalkan Azura yang masih terlihat syok.

Tunggu tanggal mainnya. Aku nggak akan membiarkanmu bahagia dan lepas dariku begitu saja! ucap Arman dalam hati.

Azura masih merasa jengkel meski Arman sudah meninggalkannya. Dia membodohi dirinya sendiri karena telah memberi kesempatan lelaki bengal itu bicara.

“Lelaki aneh! Yang jadi korban siapa, yang mengancam siapa? Seharusnya, kan, aku yang bilang begitu ke dia,” gumam Azura, kesal.

Azura sama sekali tidak takut dengan ancaman Arman. Hal itu justru membuatnya semakin yakin untuk melupakan dan membuang jauh-jauh kenangan mereka. Ia yakin, Tuhan masih sayang dengannya dan akan menjaganya dari segala marabahaya.

Gadis berkaca mata itu kembali ke kampus. Namun, tidak masuk ke kelas karena jam pertama akan selesai sebentar lagi. Ia memilih pergi ke Musala dan melaksanakan salat sunah duha—menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.

Selesai salat, ia memeriksa ponselnya dan mendapati sebuah pesan yang dikirimkan Syifa, sahabatnya.

[Kamu di mana?]

[Musala,] balas Azura, singkat.

Setelah kelas selesai, Syifa langsung menyusul Azura ke Musala. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya yang sempat menghilang tanpa kabar.

“Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Apa terjadi sesuatu pas di jalan?” Syifa memberondong Azura.

Azura dengan cepat menggeleng, lantas tersenyum untuk meyakinkan Syifa bahwa dia baik-baik saja.

“Azura ingin cerita, tapi nggak di sini. Terlalu ramai. Kita cari kelas kosong, yuk! Biar lebih enak ngobrolnya.”

Mereka gegas naik ke lantai tiga, karena termasuk bangunan baru. Di lantai itu, kelas-kelasnya sama sekali belum pernah digunakan untuk proses belajar-mengajar. Saat sudah menemukan kelas kosong, Azura langsung menceritakan semua yang terjadi dan apa yang dilakukan Arman terhadapnya. Syifa memeluk Azura—memberikan kekuatan terhadap sahabatnya itu.

📖📖📖

COFFEEBOOK (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖PART 2📖☕

.

.

Azura sudah resmi menjadi mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta Kota Binjai. Kemarin, pada Masa Taaruf Mahasiswa (MATAMA), ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Syifa An Nur. Umurnya dua tahun lebih tua dibanding Azura. Penampilannya menunjukkan bahwa dia seperti paham betul tentang agama Islam. Selalu menggunakan gamis longgar dan kerudung lebar. Sangat berbanding terbalik dengan Azura yang selalu mengekan setelan rok panjang dengan kemeja serta memakai kerudung tipis.

Azura dan Syifa menjadi lebih dekat sejak tahu bahwa mereka ditempatkan di kelas yang sama. Mereka memilih duduk bersebelahan di barisan paling depan. Syifa suka berbicara, sedangkan Azura lebih banyak diam—mendengarkan. Minggu pertama kuliah, mereka sudah mendapatkan banyak tugas. Membagi kelompok berdasarkan absensi untuk melakukan presentasi.

Meski jarang sekelompok, tapi Azura dan Syifa selalu mencari bahan tugas bersama-sama. Untuk pertama kalinya, Azura menginjakkan kaki di perpustakaan kampus. Ekspektasinya, akan ada banyak novel-novel di sana—seperti di perpustakaan SMA-nya dahulu. Namun, yang didapatkan hanyalah buku-buku agama, motivasi, pendidikan, dan lain-lain. Tak ada satu pun novel di sana. Jika tidak menemukan yang di cari, maka Syifa akan mengajaknya ke Medan.

Sejak masuk kuliah, Azura mulai memperbaiki ibadahnya. Interaksinya dengan Arman pun mulai berkurang. Dia sadar betul, kejadian yang dialaminya ini mungkin bentuk teguran dari Tuhan karena dahulu sempat melenceng dari jalan-Nya. Gagal masuk universitas impian, pacar malah mulai menjauh.

“Siapa yang memperbaiki salatnya, maka Allah akan perbaiki jalan hidupnya,” ucap Ustaz Abu—dosen mata kuliah Fikih Ibadah.

Pada mata kuliah ini mereka tak melakukan presentasi, hanya mencatat dan mengingat setiap penjelasan sang dosen. Ternyata, setiap gerakan salat itu terdapat banyak manfaat, seperti melancarkan aliran darah, peregangan otot bahkan terapi psikologis. Selama ini, dalam salatnya Azura selalu melakukan gerakan asal-asalan dan cenderung terburu-buru.

“Ketika sujud, jangan tempatkan telapak tangan sejajar dengan siku. Orang yang model salatnya begini, akan terlihat seperti seekor anjing ketika sedang beristirahat dan Rasulullah sangat tegas melarang kita melakukan gerakan salat yang menyerupai gerakan jenis binatang,” lanjut sang dosen.

Ustaz Abu memang terkenal memiliki ucapan yang pedas, tapi sangat mengena di hati para mahasiswanya. Buktinya, Azura merasa tersindir dengan penjelasan beliau.

“Seru banget, ya, penjelasan Ustaz Abu tadi! Selama ini kita ibadah hanya tahu itu bahwa kewajiban. Merasa sudah cukup ilmu padahal masih fakir ilmu,” ucap Syifa setelah kelas selesai.

Azura bingung bagaimana menanggapinya, ia hanya tersenyum, lantas mengangguk-angguk.

“Habis ini Azura ada acara, nggak? Temani Syifa ke Gramedia yang ada di Carrefour, yuk!” seperti biasa, sebulan sekali Syifa akan mengajak Azura berburu buku.

“Tumben! Biasanya di depan stasiun Medan,” tak pernah-pernahnya Syifa mengajak ke Carrefour.

“Syifa pengin cari suasana baru,” sambung Syifa cepat ketika menangkap raut penasaran pada wajah sahabatnya.

Di Binjai, hanya terdapat beberapa toko buku. Tidak seluas dan selengkap di Kota Medan. Harganya juga terjangkau. Itu sebabnya, Syifa lebih senang membeli buku di sana.

Tak lupa, Azura meminta izin pada bundanya. Ia tak pernah berbohong lagi mengenai kegiatannya di luar. Kecuali saat akan bertemu dengan Arman. Namun, sudah beberapa bulan ini ia tak pernah lagi bertemu dengan kekasihnya. Arman selalu membuat alasan ketika Azura meminta untuk ditemui.

Setelah mendapat izin, mereka langsung berangkat dengan mengendarai bus antar kota dan langsung turun tepat di depan Carrefour. Gegas berkeliling mencari apa yang dibutuhkan. Azura sendiri mengambil beberapa novel bergenre horor. Entah kenapa, belakangan ini ia sangat suka dengan yang berbau horor. Mulai dari membaca hingga menonton film.

Transaksi telah selesai dilakukan, saatnya mengisi kampung tengah yang penduduknya sudah meronta-ronta minta jatah. Mereka berniat mengunjungi salah satu cafe yang ada di sini. Dari jauh, Azura melihat sosok yang tak asing sedang bercumbu dengan seorang wanita. Jarak mereka kian dekat, Azura bisa memastikan bahwa penglihatannya tak salah.

Itu Arman, bersama wanita lain! Jemari mereka saling menggenggam. Sesekali sang wanita bersandar di pundak pria dan yang paling parah, mereka berciuman di depan umum—tepat di depan mata Azura.


Klik link-nya untuk mendapatkan kelengkapan cerita.

Link FB:

https://www.facebook.com/groups/291426671038978/permalink/1799471240234506/

Mampir juga ke KBM App dan subcribe cerita ini, ya.
https://kbm.id/book/detail/3199bf77-1178-43aa-cb60-77a14ba9fbf7?af=2b01882a-6377-26b2-9e4c-807e09d09733

CoffeeBook (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖PART 1📖☕

.

.

“Bun, Azura dapat jalur undangan dari sekolah. Azura mau coba masuk Universitas Negeri Medan,” ucap Azura pada wanita paruh baya yang berada di hapadannya dengan wajah berseri-seri.

Yang diajak bicara, bukannya memperlihatkan raut wajah bangga malah terlihat bingung. Dahulu, abangnya juga menginginkan kuliah di universitas yang sama. Ia mencoba melalui jalur mandiri dan sudah mengeluarkan banyak biaya, tapi tak juga lulus. Akhirnya beralih ke Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan tanpa mencari tahu banyak tentang biaya yang akan dikeluarkan.

“Jalur undangan itu bagaimana?” tanya bundanya.

“Katanya, sih, pendaftaran nggak pakai biaya.”

“Pendaftarannya saja? Uang kuliahnya bagaimana? Nanti seperti abang kemarin, katanya satu setengah juta, rupanya per tiga bulan sekali. Bunda nggak mau hal seperti itu terulang lagi di kamu.”

“Azura belum tahu sampai sana, tapi nanti akan Azura cari tahu.”

“Haduh! Bunda nggak tahu, deh! Nanti bunda tanya ayah dahulu.”

Jawaban sang bunda barusan membuat Azura berkecil hati. Impiannya ingin mengambil gelar magister di Benua Biru terancam gagal. Bahkan, kesempatan untuk bersama pacarnya juga akan kandas. Meski belum pasti, Azura terus meyakinkan diri.

Sebagai anak kedua, terkadang dia sering mendapat perlakuan yang berbeda dari kedua orang tuanya. Terlebih, abang dan adik perempuannya memiliki kesamaan sifat serta selera yang sama. Azura sering merasa terpojokkan dan menganggap ini tidak adil. Meski begitu, Azura tidak pernah membantah mereka, walau hati sulit menerima. Namun, lama-kelamaan Azura menjadi lebih terbiasa.

Ada satu hal yang Azura tutupi dari keluarganya. Dia dilarang berpacaran sebelum masa putih abu-abunya selesai. Namun, yang namanya remaja tak bisa menahan rasa penasaran memiliki hubungan dengan lawan jenis. Apalagi semua teman-temannya berpasangan. Tak ingin tertinggal, Azura pun mengikuti jejak mereka. Berawal dari coba-coba malah menjadi keterusan.

Hampir setiap saat Azura berkutat dengan gawainya, hingga terkadang mengabaikan panggilan azan. Setelah ditegur bundanya barulah ia gegas ke kamar mandi, menghidupkan keran air untuk membasahi wajah, tangan, kaki dan ujung rambut dengan asal-asalan agar terlihat seperti habis berwudu. Setelah masuk ke kamar, ia tak pernah benar-benar melaksanakan kewajibannya. Malah rebahan di atas kasur dan asyik berselancar di dunia maya.

“Sudah salat?” tanya bundanya saat mendapati Azura tengah cengengesan menatap layar ponsel.

“Sudah!” Azura menjawab singkat bahkan tanpa menoleh.

Bundanya tak lagi bertanya-tanya—seakan percaya bahwa dia benar-benar sudah melakukannya. Kebohongan-kebohongan ini terus saja berulang. Memang benar kata orang-orang, sekali berbohong maka akan terus berlanjut kebohongan-kebohongan yang lain.

Misal, sepulang sekolah Azura tak pernah benar-benar mengerjakan tugas kelompok. Ia bersama teman-temannya sengaja bersenang-senang bersama pasangan masing-masing. Rumah Arman—pacar Azura—selalu menjadi basecamp mereka.

Azura tak pernah mau jika diajak ke mall atau ke tempat lain, karena kemungkinan untuk bertemu orang-orang yang ia kenal akan lebih besar. Bisa-bisa, kebohongannya selama ini akan terbongkar. Menurutnya, rumah Arman lah yang paling pas. Orang tua Arman sering keluar kota untuk mengurusi pekerjaan. Hanya ada seorang pembantu yang menemaninya dan akan selalu melayani mereka, apapun yang diinginkan.

[Bun, Azura pulang sore. Mau mengerjakan tugas kelompok di sekolah,] izin Azura pada bundanya lewat pesan singkat.

Lagi, bundanya selalu percaya dengan apa yang dikerjakan anaknya di luar sana. Di lingkungan rumah, Azura terkenal kurang bersosialisasi dengan masyarakat. Tak ada teman sebaya yang akrab dengannya. Satu-satunya teman sekolah Azura yang dipercaya bundanya adalah Tania, pacar Budi—sahabat baik Arman.

Tak ada yang tahu segala dosa yang kerap dilakukan Azura, kecuali Pak Sabar—guru mata pelajaran Ekonomi yang memiliki kemampuan indera ke-enam. Sialnya, setiap kali beliau menunjukkan kebolehannya selalu Azura yang menjadi korban.

“Agama kamu Islam?” tanya Pak Sabar setelah memanggil nama Azura lewat absen kelas.

“Iya, Pak,” jawab Azura terus menundukkan pandangan.

“Tadi pagi salat subuh?”

Azura menggeleng.

“Kemarin malam, salat isya, nggak?”

Azura menggeleng lagi.

“Maghrib?”

Sudah pasti Azura tetap menggeleng. Mau berbohong pun percuma, Pak Sabar akan tetap tahu. Azura tak punya pilihan lain, mau tak mau dia harus berkata jujur meski itu memalukan!

“Lagi datang bulan?”

“Nggak, Pak!” jawab Azura dengan nada pelan.

Pak Sabar menghela napas berat.

“Kalian tahu, nggak? Orang yang sengaja meninggalkan salat lima waktu, dosanya sangat besar! Bahkan lebih besar dari dosa membunuh, berzina, minum-minuman keras, mencuri dan merampas harta orang lain,” ucapannya kali ini tidak hanya ditujukan kepada Azura, tapi untuk seisi kelas.

Pandangan Pak Sabar menyapu ke sekeliling. Semua tertunduk dan suasana sangat hening. Dia melihat, masih banyak murid-muridnya yang meninggalkan salat. Sangat disayangkan, banyak yang mengaku beragama Islam, tapi tak mau menjalankan aturan-aturan di dalamnya.

Tatapannya kembali tertuju pada Azura yang terlihat sangat ketakutan. Jantungnya berpacu lebih cepat dan dia bisa merasakan itu. Merasa kasihan, ia mempersilakan Azura kembali ke mejanya.

“Sudah, silahkan duduk,” titahnya.

Azura melangkahkan kakinya dengan gontai dan terus menunduk. Begitu pun dengan Tania yang tak berani mengangkat kepalanya karena takut dipanggil ke depan dan dibongkar aib-aibnya. Tak lupa, Pak Sabar menutup pembelajaran dengan nasihat yang dapat membuka pikiran mereka.

Sangking takutnya dengan Pak Sabar, setiap kali jadwal pelajaran Ekonomi tiba, Azura benar-benar melaksanakan salat. Takut kalau-kalau dirinya dipanggil seperti yang sudah-sudah dan dibongkar lebih banyak aibnya.

Bahkan, Azura lebih takut dengan gurunya daripada Tuhannya.


Cek kelengkapannya di grup Facebook LovRinz and Friends (Penerbit Buku), ya, guys 😍

Link:

https://www.facebook.com/groups/291426671038978/permalink/1798806586967638/

Mampir juga ke KBM App dan jangan lupa subcribe cerita ini 💕

Link:

https://kbm.id/book/detail/3199bf77-1178-43aa-cb60-77a14ba9fbf7

Terima kasih 🤗

[11] 30 Hari Bercerita

(11/30) AKHIR PERJALANAN

Petualanganmu sudah selesai, Kawan.
Saatnya kembali ke peraduan.
Ucapkan selamat tinggal pada mereka.
Saatnya kau bersenang-senang di alam sana.

Perjalananmu sudah selesai.
Meski kau tak pernah sampai pada tujuan.
Ada tempat lain yang menunggumu di sana.

Senyuman itu kini menghilang dari pandangan.
Digantikan rona ketakutan.
Gelak tawa menjadi terbungkam.
Digantikam zikir penuh mengingat Tuhan.
Tangisan kian menggema.
Dari bibir mungil makhluk kecil tak berdosa.
Hingga dentuman itu terdengar.
Menandakan akhir dari perjalanan.
————————————————————
Rest In Peace Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta menuju Pontianak
Al-Fatihah untuk saudara-saudara kita.
.
.
@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30bmhbc2111 #catatansenjabiru #akhirperjalanan #restinpeacesriwijayaair

[10] 30 Hari Bercerita

(10/30) HIBURAN MASA KECIL

Tahun 2017, aku pernah menuliskannya di blog. Tentang permainan masa kecil yang cukup menjadi hiburan kala itu. Ada tiga permainan yang kutulis.

Pertama, engklek.
👉 Hampir sepanjang hari aku memainkannya. Biasanya pagi hari, sebelum memulai pelajaran di sekolah, bersama teman-teman sekelas atau adik atau kakak kelas.

Kedua, kerang dan batu serimbang.
👉 Permainan ini sering kumainkan sendiri di rumah. Bahkan, sampai hari ini kalau sedang iseng.

Ketiga, Patok Lele.
👉 Untuk permainan ini, sebenarnya aku tak terlalu pandai, tapi punya kesan sendiri ketika memainkannya bersama Abang.

Selain ketiga permainan di atas, aku sering memainkan boneka. Membuatkan mereka rumah-rumahan, memakaikan mereka baju. Aku tak pernah bisa lepas dari boneka. Bahkan, sampai sekarang. Menjadikan boneka sebagai teman curhat, menjadi hal biasa yang sering kulakukan.


@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2110 #30hbc21masakecil #catatansenjabiru

[9] 30 Hari Bercerita

(9/30) BELOK KE KANAN, JATUH KE KIRI

Hari ini aku berangkat kerja diantar oleh ayahku. Dia hanyalah pedagang ikan di pasar. Berangkat pukul 03.00 pagi, pulang tergantung situasi. Selepas tahun baru, tak banyak ikan segar. Orang-orang masih enggan ke laut—masih libur. Pukul 07.00, ayahku sudah pulang ke rumah.

Aku naik ke jok belakang, duduk dengan posisi menyamping. Tangan kananku berpegangan erat pada pinggang ayah, sedangkan tangan kiriku memegang botol minuman kesayanganku.

Belum sampai ke mulut gang, ayahku berkata diikuti dengan suara tawanya yang renyah—mengejek, “Awas jatuh lagi.”

Mendengar kata “lagi”, mengingatkanku pada momen 9 tahun silam saat aku baru beberapa bulan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Seperti biasa, saat itu ayah mengantarkanku ke sekolah dengan sepeda motor kesayangannya yang baru dicuci kemarin sore. Body motornya terlihat kinclong dan sayangnya tempat duduknya terlalu licin untuk kududuki dengan posisi menyamping. Di pertengahan jalan, ketika ayah berbelok ke kanan dengan kondisi jalan yang menurun dan bebatuan, entah kenapa aku hilang keseimbangan. Aku terjun bebas ke arah kiri dan meluncur mengikuti kondisi jalan sambil berteriak, “Ayaaaahhhhhhhh.”

Kulihat seorang bapak-bapak dari arah berlawanan menghentikan laju motor ayahku seraya berkata,”Pak.. Pak.. anaknya jatuh.”

Aku mendengus kesal, dalam hati berkata, Ih, Ayah… anaknya jatuh, bisanya gak tahu.

Aku berdiri sendiri sambil meringis kesakitan. Ayah menghampiri dan memeriksa keadaanku. Tak ada yang luka, hanya saja… rok yang kukenakan robek hingga nyaris memperlihatkan seluruh bagian bawah. Untung keadaan jalan saat itu sedang sepi. Dengan muka merah padam—menahan tangis dan jantung yang hampir copot, aku kembali ke rumah untuk mengganti rokku yang robek dan tetap melanjutkan kembali perjalanan ke sekolah.

Kejadian itu melintas sejenak ke otakku dan menghilang ketika kudapati ayah kembali berkata.

“Padahal ayah belok ke kanan, bisanya dia jatuh kiri,” sambungnya lagi masih tetap terkekeh.


📷 by Pinterest

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2109 #catatansenjabiru

[8] 30 Hari Bercerita

(8/30) KEBAIKAN

Perihal kebaikan, bunda selalu bilang, “Kalau kita mau diperlakukan dengan baik, maka perlakukan orang dengan baik juga.”

Nasihat ini selalu kutanamkan dalam diri. Bahkan, sangking baiknya, aku jadi merasa sering dimanfaatkan, haha. Astaghfirullah.

Tapi, nasihat ini benar-benar kerasa banget di aku. Alhamdulillah, Allah selalu mengirimkan orang-orang baik sebagai jalan keluar dari setiap permasalahan yang aku hadapi. Akan tetap kuingat kebaikan mereka yang selalu berada di balik layar setiap perjuanganku. Karena tanpa bantuan mereka, aku bukan apa-apa.


📷 by Pinterest

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2108 #30hbc21baik #30hbc2108baik #catatansenjabiru #kebaikan

[7] 30 Hari Bercerita

(7/30) 29 BUKU DALAM SATU TAHUN

2018, aku membaca salah satu postingan seseorang di blog yang menuliskan pencapaiannya membaca lebih dari 70 buku dalam setahun. Dengan antusias aku menuliskan di kolom komentar, “Masyaallah, keren. Bisa menjadi inspirasi untuk target di tahun 2019.”

Sayangnya, sebagai Mahasiswi tingkat akhir di tahun itu, aku lebih memilih berjuang menyelesaikan skripsi. Mengingat, buku-buku yang kusukai hanya novel saja.

2020, setelah berhasil menyandang gelar sarjana, aku mulai merealisasikan impianku yang sempat tertunda. Menambah koleksi buku yang kubeli dengan menyisihkan gajiku yang tak seberapa. Mengikuti berbagai challenge tantangan membaca dari berbagai komunitas. Hasilnya, 29 buku tembus aku baca dalam setahun dan 20 buku sudah berhasil aku review.

Berikut keterangannya:

1. The Acacia Bride – Citra Novy
2. Kutunggu Kau di 2017 – Septi Titanika
3. Let Me Escape – Billa Runnisa
4. Red Thread – Reffi Dhinar
5. Jejak Kaki – Dhian Rizky & Rini Nurul
6. Hijrah Asmara – Madun Anwar & Sukma El-Qatrunnada
7. Elena – Ellya Ningsih
8. Eugene – Ellya Ningsih
9. Perjalanan Dinas – Nadya Wijanarko
10. Klandestin – Tim Penulis Cabaca
11. Insecure – Seplia
12. Kekasih Impian – Wardah Maulina
13. Aku Memilih Pergi – Tereza Fahlevi
14. Trave Love – Andrei Budiman, dkk
15. I Scream, You Scream – James Preller
16. Home Sweet Horor – James Preller
17. Good Night, Zombie – James Preller
18. Bekerja Karena Allah – Idat Mustari
19. Single? Asyikin Aja, deh! – Nashihatku
20. Metamorfosa – Rahman Patiwi
21. The Amazing Rasulullah – Faris Khoirul Anam
22. Diary Kehidupan Shahabiyah – Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salim
23. Wonderful Journey, Menemani Masa Transisi Anak – Nulis Yuk Batch 46
24. Tentang Segala Rasa yang Hidup dalam Kata – Lovetale Season 1
25. Inilah Proposal Jodohku – Tim EKI
26. Idulfitriku -Tim Buku Bareng Idulfitri
27. Perfect Mistakes – Rons Imawan, dkk
28. Air Mata Bulan – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
29. Kala – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Bagaimana dengan kalian? Buku apa saja yang sudah kalian baca setahun lalu?

Btw, terima kasih untuk Kakak yang telah menginspirasi 🙂


📷 by Pinterest

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2107 #catatansenjabiru #bacabuku

[20] REVIEW BOOK: DIARY KEHIDUPAN SHAHABIYAH

Judul Buku : Diary Kehidupan Shahabiyah
Penulis : Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salim
Penerbit : Pro-U Media
Jumlah Halaman : 180 Halaman
Tahun : 2014
Reviewer : @vii_aulia18
Rate : 3.8/5

“Seorang wanita Muslimah yang taat agama adalah seperti lebih pekerja, tidak makan kecuali yang baik saja, dan tidak memberi kecuali yang baik. Apabila hinggap di atas sebuah dahan, dia tidak menggores atau mematahkannya. Dia punya kekuatan, tetapi untuk musuh-musuhnya.” (Halaman 112)

Di dalam buku ini terdapat banyak sekali kisah inspiratif dari para Shahabiyah di zaman Rasulullah. Mulai dari kisah istri-istri Nabi dalam berpakaian, sampai para pejuang wanita yang membela agama Islam.

Bagian yang paling saya suka adalah sikap malu yang terdapat dalam diri Asiyah. Ketika beliau ziarah ke makan Rasulullah, Aisyah tak pernah mengenakan penutup kepala. Begitu pula ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq, ayahanda beliau, di makamkan dekat dengan Rasulullah. Namun, ketika Umar bin Khattab ikut di makamkan di sana, Aisyah merasa malu dan sejak saat itu ia selalu mengenakan penutup kepala saat ziarah ke makan Rasulullah.

Buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi wanita, lelaki pun sangat boleh membacanya agar dapat mengambil pelajaran. Kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini sangat dijamin keasliannya karena diperkuat dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun Hadis.

[19] REVIEW BOOK: PERFECT MISTAKES

Judul buku: Perfect Mistakes
Nama penulis buku: Rons Imawan, dkk
IG penulis buku: –
Nama penerbit: Bentang Belia
IG penerbit: –
Nama pengulas: Silvi Aulia
IG pengulas: @vii_aulia18
Ulasan:

“Tuhan adalah pemilik kesempurnaan cinta dan adidaya. Separuh energi dari keduanya Ia alirkan melalui darah anak manusia yang kau sebut “ibu”.” (Perfect Mother, hal. 265)

Pernahkah kalian melakukan kesalahan? Bagaimana cara kalian menebusnya?

Perfect Mistakes, adalah sebuah buku yang berisi sembilan kisah tentang dosa dan penebusan sempurna. Setiap kisah memiliki pesan moralnya masing-masing. Terdiri dari sembilan judul yang hampir semuanya aku suka. Terutama yang berjudul, After Heart. Awal ceritanya membingungkan, tapi endingnya kalian akan dibuat kaget. Bagaimana caranya organ vital yang didonorkan kepada orang lain bisa menjadi medium untuk membelokkan perasaan? Lewat sebuah mimpi-mimpi yang diwariskan Dewanti, Kenanga harus mencintai seorang lelaki yang sudah memiliki istri dan anak. Kisah percintaan Dewanti dan Ismet sangat rumit. Raga mereka memang sudah mati, tapi cinta mereka tetap abadi meski dalam tubuh orang lain.

Selain itu, kisah yang berjudul Lamunan Jendela, juga tidak kalah keren. Mengisahkan tentang Vaya yang mengagumi Askar dalam diam. Segala tentang Askar, Vaya tuliskan dalam buku agendanya yang berwarna maroon. Hingga suatu hari, buku itu hilang dan ternyata ada di tangan Askar. Kisah ini endingnya benar-benar diluar dugaan.

Kisah lainnya berjudul, Untuk Indira, Crown for a Brave Girl, Alibi, Realitas Palsu, Sumpah Konyol, Bulan Belum Pulang dan Perfect Mother, semuanya dikemas dengan sangat menarik.

Kalian yang punya kesalahan, bisa intip buku ini sebagai referensi penebusan dosa. Selamat berjuang memperbaiki kesalahan.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑