30 HARI SEIRAASA MENULIS KEBAIKAN

🌾30 Hari SeiraAsa Menulis 🌾

Day 5

Judul: Sebulan Penuh Arti

Oleh: Silvi Aulia

Jumlah Kata: 434 (Hanya Isi)

❣❣❣

Aku yang dulu jelas berbeda dengan sekarang. Kehidupanku berubah saat Ayah menghukumku, menghabiskan liburan sekolah di rumah nenek. Banyak sekali kesalahan yang kuperbuat, sehingga ayah tak bisa lagi menahan diri. Ibu pun pasrah dengan keputusan yang ayah buat.

Ghandi, anak lelaki yang mengubah pandanganku untuk bersyukur dengan segala apa yang kupunya. Dia hanyalah pria yang sederhana dan menyenangkan, menurutku. Dia juga mengajariku banyak hal. Kekurangan yang ada padanya, membuatku sadar bahwa selama ini aku telah menyia-nyiakan hidup.

Sejak SMA, aku adalah anak yang jauh dari kata baik. Menjadi anak nakal dan suka memberontak, tak jarang Ibuku pun kalang kabut melihat tingkahku. Suatu hari, surat peringatan dari sekolah sampai ke tangan Ayahku. Aku yang sering membolos dan melawan semua perkataan guru, membuat Ayahku geram. Dia melayangkan tamparan yang mendarat di pipi kananku, yang bahkan sakitnya masih terasa sampai sekarang.

Saat liburan sekolah tiba, Ayah mengirimku ke rumah Nenek yang jauh dari pusat kota. Di sana, aku diperkenalkan dengan Ghandi yang menemaniku melewati hari-hari kelam. Sikapku yang selalu acuh tak acuh, sama sekali membuatnya tidak gentar mengajarkan hal-hal baik.

“Kamu kenapa masih mau baik sama aku? Padahal dahulu aku nggak pernah peduli sama kamu,” tanyaku suatu hari.

“Almarhum ibuku pernah bilang, seburuk-buruknya orang, pasti ada sisi baiknya juga. Aku melihat banyak sekali sisi baik di diri kamu, tapi kamunya nggak sadar,” jawab Ghandi.

“Aku nggak pernah merasa diriku baik. Buktinya ayah sampai mengirimku ke sini.”

“Kamu itu baik, Ra. Hanya saja, pergaulanmu yang kurang baik. Sebelum ayah kamu mengirim ke sini, dia sudah cerita semuanya. Siapa kamu, dengan siapa kamu berteman dan segalanya. Ingat, Ra, manusia itu tergantung dengan siapa dia berteman. Kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan terkena wanginya. Namun, jika berteman dengan pandai besi, maka kita hanya akan dapat percikan apinya,” jelasnya, panjang lebar.

Aku merenung sejenak. Memang, dari dahulu pertemananku dengan Erika dan kawan-kawan terbilang tidak sehat. Mereka mengajari hal-hal buruk, mengatakan aku terlihat lemah dan kampungan kalau menghabiskan masa remaja dengan belajar. Demi membuktikan aku tidak seperti yang mereka tuduhkan, aku pun bergabung dengan geng mereka.

“Sudahlah! Aku yakin kamu bisa berubah. Perjuanganmu masih panjang, Ra. Teruslah berbuat baik. Bertemanlah dengan orang-orang yang bisa membawamu pada kebenaran. Sudah seharusnya kamu bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk dirimu sendiri,” sambungnya sambil menepuk pelan bahuku.

Pesan Ghandi sangat mengena di hatiku. Sehingga, sejak kepulanganku dari rumah nenek, aku menjadi pribadi yang baru. Sebulan menghilang dari Erika dan yang lainnya membuat mereka tak lagi menganggapku ada. Mereka menjauhiku, tapi tak lagi menghina. Aku sangat menanti liburan selanjutnya. Tak sabar ingin bertemu Ghandi lagi dan belajar hal lain dari dia.

Binjai, 05 September 2021

.

.

#30HSMK

#SeiraAsa

#EventSeiraAsa

#MenulisKebaikan

#BelajardanBertumbuh

#catatansenjabiru

30 HARI SEIRAASA MENULIS KEBAIKAN

🌾30 Hari SeiraAsa Menulis 🌾
Day 4

Judul: Don’t Judge A Book By Its Cover
Oleh: Silvi Aulia
Jumlah Kata: 414 (Hanya Isi)

❣❣❣

Sri Lelawangsa, kereta api jurusan Binjai-Medan baru saja merapat di peron satu, Stasiun KA Kota Medan. Gadis berusia 24 tahun yang berhasil turun dari gerbong, mempercepat langkahnya menuju peron dua, menaiki kereta api jurusan Medan-Kisaran.

Sudah lama ia tak mengunjungi Kota yang menjadi kampung halaman orang tuanya itu. Sejak neneknya meninggal setahun lalu dan sejak Virus Corona bertandang ke Indonesia.

Ia lantas menuruni anak tangga yang diujungnya terdapat papan penunjuk jalan. Ia mengamatinya dengan seksama, ke arah kanan merupakan lorong menuju pintu keluar dan ke arah kiri merupakan lorong menuju peron dua. Ia berbelok ke arah kiri dan melewati lorong yang terasa amat panjang.

Ia sudah berada dalam gerbong tiga dan sekarang matanya harus jeli mencari kursi penumpang dengan nomor 18G. Dia menemukannya. Duduk bersebelahan dengan jendela adalah kesukaannya dari dahulu. Bahkan ketika masih berumur lima tahun, dia sering duduk di meja kecil dekat jendela dan berteriak ke orang-orang di luaran sana dengan melambai-lambaikan tangannya.

Pandangannya menerawang jauh ke masa lalu. Lengking peliut tanda keberangkatan membuatnya tersadar. Saat itulah, seorang lelaki bertato dan berambut gondrong duduk tepat di depannya. Jantung gadis itu berdebar, dalam hati ia berdoa, “Semoga pria ini orang yang baik.

Roda besi kereta bergerak perlahan meninggalkan sejuta keramaian. Empat jam telah berlalu. Kereta akan segera tiba di Stasiun Kisaran, hatinya tak sabar ingin segera bertemu sanak saudara. Saat turun dari gerbong, gadis itu tak langsung menuju pintu keluar. Melainkan melipir ke toilet terlebih dahulu. Betapa kagetnya dia saat memergoki pria bertaro tadi sedang merebut sebuah dompet dari tangan seorang lelaki berkaca mata dengan paksa.

Setelah mendapatkan dompet tersebut, pria bertato itu berbalik dan mendapati Hania yang mematung. Kaki Hania lemas, ingin rasanya berlari, tapi tak bisa.

“Maaf, Mbak. Ini dompet Mbak yang diambil sama orang itu tadi pas turun dari kereta. Lain kali hati-hati, ya, Mbak,” ucap pria itu seraya menyodorkan dompet kulit berwarna biru tua.

Hania mengecek tas selempangnya, ternyata dompetnya tak ada di dalam tas. Gegas ia mengambil dompet dari pria bertato itu dan mengecek isinya, masih lengkap.

Astagfirullah. Terima kasih banyak, ya, Bang. Maaf kalau tadi saya sempat berpikiran yang buruk tentang Abang.”

“Sama-sama, Mbak. Kalau begitu, saya urus lelaki itu dahulu,” ucapnya, meninggalkan Hania.

Gadis berkerudung itu masih tak menyangka atas kejadian yang menimpanya barusan. Ternyata benar perkataan orang-orang, Don’t judge a book by its cover. Pria bertato itu memang terlihat menyeremkan. Namun, siapa sangka memiliki hati yang mulia. Sedangkan pria berkaca mata tadi, sama sekali tak tampak sebagai seorang pencuri. Hania bersyukur, Allah masih melindungi dirinya.

Binjai, 04 September 2021
.
.

#30SMK

#SeiraAsa

#EventSeiraAsa

#MenuliskanKebaikan

#BelajardanBertumbuh

#catatansenjabiru

30 HARI SEIRAASA MENULIS KEBAIKAN

🌾30 Hari SeiraAsa Menulis 🌾
Day 3

Judul: Empus, Si Kucing Malang
Oleh: Silvi Aulia
Jumlah Kata: 393 (Hanya Isi)

❣❣❣

Bicara masalah kebaikan, enggak akan pernah ada habisnya. Bahagianya lagi, Allah akan membalas sekecil apapun perbuatan kita. Itu janji yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam bersikap.

Ibuku selalu mengingatkan, jika kita berbuat baik kepada orang lain, insyaallah kita akan diperlakukan yang sama. Kebaikan tidak hanya berlaku kepada manusia saja. Kepada hewan pun kita bisa melakukan kebaikan.

Siang ini, saat pulang dari sekolah, aku diikuti kucing jalanan. Hewan mungil itu tampak kurus dan kotor. Di badannya juga ada beberapa goresan luka. Dia terus mengeong ke arahku.

Dia pasti sangat kelaparan, pikirku.

Aku mengeluarkan sepotong roti–sisa bekalku–dan memberikannya. Tanpa berlama-lama, dia langsung melahap habis roti itu. Aku melanjutkan perjalanan. Hingga sampai di rumah, kucing itu tetap mengikuti. Rasa kasihan dan ingin memelihara tiba-tiba saja muncul dibenakku, tapi aku harus membicarakannya terlebih dahulu ke ibu.

“Empus, kamu tunggu di sini dahulu, ya. Aku mau minta izin sama ibu supaya bisa memelihara dan mengobati lukamu,” ucapku.

Dia mengeong, seolah mengiyakan ucapanku.

Aku gegas masuk ke dalam rumah, mengganti pakaian dan menemui ibu di dapur yang sedang menyiapkan makan siang untuk kami berdua.

“Bu, bisa ikut Citra sebentar?” tanyaku, hati-hati.

“Ke mana, Sayang?”

“Ke depan. Sebentar saja, Bu. Ada yang mau Citra tunjukkan ke Ibu.”

Ibu mengangguk dan mengikutiku hingga ke halaman depan.

Empus mengeong melihat aku dan ibu yang berjalan ke arahnya.

“Kenapa bisa ada kucing di sini?” tanya Ibu keheranan.

“Tadi sewaktu Citra jalan pulang, Empus mengikuti Citra terus, Bu. Citra kasih dia makan, lalu dia malah ikut Citra sampai ke rumah. Kita boleh enggak memelihara Empus, Bu? Kasihan, dia pasti sendirian di jalan.”

Ibu tersenyum dan mengelus rambut ikalku.

“Sayang, tindakan kamu memberi makan kucing tadi sangat bagus. Ibu bangga padamu, tapi kalau untuk memeliharanya kita tidak bisa.”

“Loh, kenapa, Bu?”

“Ayah kamu alergi bulu kucing. Itu sebabnya dia selalu menghindar bila bertemu hewan menggemaskan ini.”

Aku sangat kecewa mendengar penjelasan ibu, tapi tak dapat membantah karena ini perihal kesehatan ayah.

“Bagaimana kalau kita bawa Empus ke rumah Aunty Lily. Dia kan suka memelihara kucing dan kucingnya juga sangat banyak. Jadi, di sana Empus enggak sendirian lagi, deh.”

“Wah! Boleh, Bu. Ayo, kita antarkan Empus ke rumah Aunty Lily!” ajakku, semangat.

Aku sampai lupa kalau ada Aunty Lily. Beliau sangat menyukai kucing. Hampir semua kucing peliharaannya berasal dari jalanan. Aku yakin, Empus akan aman bila bersama Aunty Lily.

Binjai, 3 September 2021
.
.

#30HSMK
#SeiraAsa
#EventSeiraAsa
#MenulisKebaikan
#BelajardanBertumbuh
#catatansenjabiru

30 HARI SEIRAASA MENULIS KEBAIKAN

🌾30 Hari SeiraAsa Menulis 🌾
Day 2

Judul: Rezeki Tak Terduga
Oleh: Silvi Aulia
Jumlah Kata: 518 (Hanya Isi)

❣❣❣

“Maaf, ya, Nak. Hari ini kita sarapan pakai tempe goreng lagi, enggak apa-apa ‘kan? Ibu belum ada uang untuk membeli ayam goreng,” ucap Bu Minah pada anaknya.

“Enggak apa-apa kok, Bu. Tempe goreng juga enggak kalah enak dengan ayam goreng,” jawab Ali dengan nama ceria.

Bu Minah tahu anak itu sedang berbohong. Ali tak pernah mengeluh meski kehidupannya jauh dari kata layak. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya mengambil alih peran sang ayah—menjadi tulang punggung keluarga.

Upah buruh cuci sangatlah sedikit. Belum lagi untuk biaya sekolah Ali dan keperluan lainnya. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bu Minah berjualan berbagai macam gorengan di teras rumahnya setelah selesai mencuci di rumah-rumah para tetangga yang membutuhkan jasanya.

Ali telah menyelesaikan sarapannya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat ibunya hendak memasukkan bekal ke dalam tasnya, ia menolak.

“Hari ini Ali enggak usah bawa bekal, ya, Bu. Ali bawa minum saja.”

“Loh, kenapa?” tanya Bu Minah terkejut.

“Enggak apa-apa, hari ini ‘kan hari sabtu, Ali pulangnya cepat.

Bu Minah merasa kecewa, tak biasanya Ali bersikap seperti ini. Dia pun membiarkan Ali berangkat tanpa membawa bekal yang telah dia siapkan.

Mungkinkah Ali malu pada teman-temannya? pikir Bu Minah.

Dia semakin merasa bersalah karena tak dapat menuruti kemauan putra semata wayangnya. Akhir-akhir ini, tak banyak orang yang membutuhkan jasa mencuci karena sudah memiliki mesin cuci. Namun, dia percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.

Pagi ini, Bu Minah berniat membuka warung gorengannya lebih cepat dari biasa. Ia gegas pergi ke pasar untuk membeli bahan yang diperlukan dan mengolahnya.

Bismillah, semoga dagangan hari ini habis agar bisa membeli ayam goreng untuk Ali,” ucap Bu Minah, bersemangat.

Saat melewati warung nasing padang, Bu Minah melihat tumpukan ayam goreng. Seketika ia teringat pada Ali dan air matanya pun luruh. Melihat sikap anaknya tadi, ia pun mengurungkan niat untuk berbelanja kebutuhan dagang dan masuk ke warung nasi padang.

Ia memesan dua potong ayam goreng untuk menu makan siang Ali. Bu Minah berharap, Ali akan bahagia mendapatkan kejutan darinya. Sepulang sekolah, Ali merasa heran melihat warung ibunya yang tutup. Ia mengira wanita kesayangannya itu sedang jatuh sakit. Ia gegas masuk ke dalam rumah untuk memastikan kondisi Bu Minah.

Namun, alangkah terkejutnya Ali karena di meja sudah tersedia nasi dan dua potong ayam goreng serta tempe goreng sisa pagi tadi.

Assalamualaikum. Bu!” panggilnya.

Bu Minah keluar dari dapur dengan membawa segelas air putih.

“Eh, anak Ibu sudah pulang. Ayo, ganti baju dan setelah itu lekas makan!” titah Bu Minah.

“Katanya Ibu enggak punya uang untuk beli ayam goreng. Lalu, kenapa warung Ibu hari ini tutup?”

Ali menuntut penjelasan dari ibunya.

“Iya, hari ini Ibu mau istirahat, jadi enggak jualan. Sudah! Sana cepat ganti baju.”

Ali menuruti perintah ibunya. Selesai mengganti baju, ia makan dengan lahap. Tak lupa menyisakan satu potong ayam goreng untuk makan malam nanti. Ia juga membagi ayam goreng miliknya kepada Bu Minah dan mereka makan siang bersama dengan perasaan bahagia.

Selesai makan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Saat dibuka, ternyata Bu RT yang ingin memesan gorengan dan kue-kue lainnya untuk acara tasyakuran akikah cucunya besok. Bu RT juga memberikan modalnya diawal agar Bu Minah bisa membelanjakannya.

Binjai, 2 September 2021
.
.

#30HSMK

#SeiraAsa

#EventSeiraAsa

#Menulis Kebaikan

#BelajardanBertumbuh

#catatansenjabiru

30 HARI SEIRAASA MENULIS KEBAIKAN

🌾30 Hari SeiraAsa Menulis Kebaikan🌾
Day 1

Judul: September Ceria
Oleh: Silvi Aulia
Jumlah Kata: 320 (Hanya Isi)

❣❣❣

Pagi ini langit cukup cerah, matahari tak lagi malu-malu memancarkan cahayanya. Seperti halnya Adhisti yang tak pernah menanggalkan senyuman di bingkai indah wajahnya.

“Selamat pagi, dunia,” ucapnya ceria setelah membuka jendela lebar-lebar.

Kicauan burung yang merdu menyambutnya dengan sukacita, seolah sudah terbiasa dengan sapaan yang mereka terima. Adhisti gegas turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan keluarga yang lain. Ini adalah hari pertama di bulan september. Jadi, ia harus bersemangat agar mood-nya tetap terjaga.

“Selamat pagi, semuanya,” sapa Adhisti.

“Selamat pagi, anak Ayah yang cantik,” jawab sang Ayah.

“Cerah banget hari ini. Habis ketemu jodoh, ya?” selidik Bundanya.

“Iya, tapi dalam mimpi!” jawab Adhisti, disertai tawa.

Semuanya pun ikut tertawa.

“Enggak apa-apa. Itu awal permulaan yang bagus. Dari mimpi menjadi kenyataan, tapi harus dibarengi dengan usaha,” ucap pria paruh baya itu.

“Siap, Ayah!” jawab Adhisti, mantap.

Setelah itu, ia menghabiskan sarapannya dan berangkat mengajar. Sang ayah juga berangkat ke kantor dan bundanya meng-handle urusan rumah.

Sepanjang perjalanan menuju tempat mengajar, Adhisti selalu menyapa dan tersenyum. Sehingga membuat orang yang disapanya merasa heran. Sampai di sekolah pun, Adhisti langsung menyambut anak-anak dengan penuh perhatian.

“Bu Guru, kenapa kita harus selalu tersenyum?” celetuk salah satu muridnya.

“Karena senyum itu sedekah! Dengan senyum, kita bisa mendapat pahala dari Allah.”

“Sedekah dan pahala itu apa, Bu Guru?”

Adhisti tampak berpikir sebentar. Ia harus memilih kata yang tepat agar bocah berusia lima tahun itu paham dengan penjelasannya.

“Sedekah itu, memberikan sesuatu kepada orang lain dan kita bahagia melakukannya. Misalnya, Rifki memberikan jajan kepada Syauqi dan kamu merasa bahagia melihat Syauqi memakannya. Nah, kalau pahala itu, imbalannya. Misal, kalau Rifki melakukan perbuatan yang baik, Allah akan suka dan kamu akan mendapatkan semua yang kamu mau, tapi nanti di surga.”

Bocah itu hanya mengangguk seraya membulatkan bibirnya, membentuk huruf O. Bukan hal baru bagi Adhisti mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sebagai seorang guru Taman Kanak-kanak, gadis berkaca mata itu harus siap dengan celotehan anak-anak yang terkadang menguji kesabaran.

Binjai, 01 September 2021
.
.

#30SMK

#SeiraAsa

#EventSeiraAsa

#Menulis Kebaikan

#BelajardanBertumbuh

#catatansenjabiru

COFFEEBOOK (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖Part 3 (Full)📖☕

.

.

Azura menjadi rajin menjalankan puasa sunah hari senin dan kamis untuk menahan nafsunya. Ia pun selalu menjaga wudu agar tak bersentuhan dengan lawan jenis. Meski terkadang teman-teman lelakinya dengan sengaja menjahili. Mereka senang duduk di sebalah Azura dan melakukan gerakan seperti ingin menyentuh tangannya. Membuat gadis itu refleks menyembunyikannya di balik kerudung yang ia kenakan.

“Bang Iyan, tolong, deh, jangan dekat-dekat! Azura masih ada wudu, nanti batal kalau kesenggol,” ucapnya pada lelaki yang memiliki posisi sebagai Komisariat Mahasiswa (Kosma).

“Kalau batal, ya, tinggal ambil lagi. Di kamar mandi banyak air, kok!” jawabnya tanpa rasa bersalah.

Sebagai kosma, lelaki yang umurnya terpaut jauh dengan Azura itu sering duduk berpindah-pindah. Tergantung posisi mana yang membuatnya nyaman. Selain itu, memang sudah menjadi tugasnya juga untuk dekat dengan semua anggotanya agar lebih mengenal dan mampu bekerja sama.

“Tumben Abang duduk di depan? Biasa juga di belakang,” tanya Azura penasaran.

“Pagi ini mata kuliah Fikih Munakahat. Pembahasannya bakalan seru, sayang kalau sampai dilewatkan. Di belakang suka nggak fokus.”

“Kan Abang sudah berpengalaman. Emang pengen munakahat lagi?”

“Ya, kalau diizinin sama Kakakmu! Haha,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ih, bakal Azura aduin ke Kakak, loh!”

“Bercanda! Mana mungkin Abang menduakan Kakakmu. Walaupun wajah Abang ganteng, tapi Abang orangnya setia, kok!”

Belum sempat Azura menjawab, sang dosen datang untuk memulai kelas pertama. Fikih Munakahat menjadi mata kuliah favorit. Di sini mereka bebas membahas apapun tentang pernikahan bahkan sampai keperceraian.

“Pacaran setelah menikah itu enak, loh! Serius! Pegangan tangan saja, bisa membuat dosa kita berguguran. Sedangkan pacaran sebelum halal lalu kita berpegangan tangan, malah pahala kita yang berguguran! Panik nggak, tuh?”

Mendengar penjelasan pria berusia 30 tahunan itu, Azura bergumam dalam hati, Masyaallah! Indah betul, ya, pacaran setelah halal.

“Makanya, bagi yang masih pacaran, cepat halalkan! Bagi yang masih jomlo, ya, tahankan!” lanjutnya yang disambut sorak-sorai seisi kelas.

“Karena sebenarnya, pacaran itu dilarang! Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina. Nah, mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya!”

Beliau melanjutkan lagi dengan menjelaskan berbagai macam zina seperti yang tertulis dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim.

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan.”

Tak lupa juga ia menjelaskan apa saja hukuman bagi orang yang berbuat zina sesuai yang tertera dalam Al-Qur’an, surah An-Nur ayat 2.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera, masing-masingnya seratus dera dan janganlah kamu kasih sayang terhadap keduanya, dalam (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dam jari kemudia. Hendaklah hadir ketika menyiksa keduanya satu golongan di antara orang-orang Mukmin.”

Jelas, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Kebaikan sekecil apapun pasti Tuhan akan balas, begitu juga dengan kejahatan. Tiba-tiba saja ia teringat masa-masa kelamnya dahulu. Bukan hanya berpegangan tangan, kecupan di bibir pun selalu ia dapatkan dari Arman.

Astagfirullah al-‘azim!

***

Azura merasa dirinya aman setelah memblokir semua kontak Arman. Namun, ternyata dia salah. Arman masih saja mengganggunya. Dia berusaha mendatangi gadis itu di kampus dan menunggunya di pintu masuk. Kali ini dengan membawa boneka beruang yang besar berwarna biru—benda yang selalu diidam-idamkan Azura.

Beberapa bulan ini, Arman merasa hampa tanpa kehadiran Azura. Dia menyadari bahwa hanya Azura lah yang bisa memahaminya, yang mudah juga untuk dikelabui. Baginya, Azura adalah pribadi yang sangat polos. Berbeda dengan wanita-wanita yang ditemuinya di luar sana. Mereka ahli dalam bercinta dan sudah berkali-kali gonta-ganti pasangan.

Melihat Azura yang baru turun dari angkutan umum, Arman langsung mencegatnya.

“Ra, please! Kasih kesempatan aku untuk bicara,” pintanya dengan nada memelas.

Azura sudah tak dapat mengelak lagi. Kemarin-kemarin dia masih bisa menghindar dari Arman. Namun sekarang, lelaki itu sudah berada di hadapannya. Dia memilih untuk mendengarkan Arman berbicara dan melewatkan jadwal mata kuliah pertama. Mereka berjalan bersisian menuju sebuah warung bakso yang masih tutup.

“Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu, Ra. Kita kembali seperti dahulu lagi, ya,” ucap Arman, memulai pembicaraan.

“NGGAK!” jawab Azura, tegas.

“Tapi, Ra ….”

“Sekarang mending kamu pergi dari sini!” potong gadis berkaca mata itu, “aku sudah nggak mau pacaran dengan siapapun lagi, termasuk kamu! Aku nggak mau terus-terusan berbuat dosa.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Dasar, sok alim!” umpat Arman. Dia tak lagi tahan mendapat penolakan terus-menerus dari Azura. Padahal, niatnya sangat baik—ingin memperbaiki hubungannya dengan Azura.

PLAK!

Untuk kedua kalinya, Azura menampar pipi kiri lelaki yang dahulu sangat dicintainya itu karena merasa tak terima dengan apa diucapkan barusan. Arman lebih tak terima lagi dengan kelakuan Azura yang berani menamparnya. Dia menarik ujung kerudung Azura, membuat gadis itu hampir tersungkur. Untung saja tindakan Arman ini tak membuat kerudungnya lepas.

Arman tersenyum sinis.

“Oke! Mulai sekarang aku nggak akan ganggu-ganggu kamu lagi, tapi lihat saja, suatu hari nanti aku akan kembali lagi dan membalas perbuatanmu!” ancam Arman seraya meninggalkan Azura yang masih terlihat syok.

Tunggu tanggal mainnya. Aku nggak akan membiarkanmu bahagia dan lepas dariku begitu saja! ucap Arman dalam hati.

Azura masih merasa jengkel meski Arman sudah meninggalkannya. Dia membodohi dirinya sendiri karena telah memberi kesempatan lelaki bengal itu bicara.

“Lelaki aneh! Yang jadi korban siapa, yang mengancam siapa? Seharusnya, kan, aku yang bilang begitu ke dia,” gumam Azura, kesal.

Azura sama sekali tidak takut dengan ancaman Arman. Hal itu justru membuatnya semakin yakin untuk melupakan dan membuang jauh-jauh kenangan mereka. Ia yakin, Tuhan masih sayang dengannya dan akan menjaganya dari segala marabahaya.

Gadis berkaca mata itu kembali ke kampus. Namun, tidak masuk ke kelas karena jam pertama akan selesai sebentar lagi. Ia memilih pergi ke Musala dan melaksanakan salat sunah duha—menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.

Selesai salat, ia memeriksa ponselnya dan mendapati sebuah pesan yang dikirimkan Syifa, sahabatnya.

[Kamu di mana?]

[Musala,] balas Azura, singkat.

Setelah kelas selesai, Syifa langsung menyusul Azura ke Musala. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya yang sempat menghilang tanpa kabar.

“Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Apa terjadi sesuatu pas di jalan?” Syifa memberondong Azura.

Azura dengan cepat menggeleng, lantas tersenyum untuk meyakinkan Syifa bahwa dia baik-baik saja.

“Azura ingin cerita, tapi nggak di sini. Terlalu ramai. Kita cari kelas kosong, yuk! Biar lebih enak ngobrolnya.”

Mereka gegas naik ke lantai tiga, karena termasuk bangunan baru. Di lantai itu, kelas-kelasnya sama sekali belum pernah digunakan untuk proses belajar-mengajar. Saat sudah menemukan kelas kosong, Azura langsung menceritakan semua yang terjadi dan apa yang dilakukan Arman terhadapnya. Syifa memeluk Azura—memberikan kekuatan terhadap sahabatnya itu.

📖📖📖

COFFEEBOOK (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖PART 2📖☕

.

.

Azura sudah resmi menjadi mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta Kota Binjai. Kemarin, pada Masa Taaruf Mahasiswa (MATAMA), ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Syifa An Nur. Umurnya dua tahun lebih tua dibanding Azura. Penampilannya menunjukkan bahwa dia seperti paham betul tentang agama Islam. Selalu menggunakan gamis longgar dan kerudung lebar. Sangat berbanding terbalik dengan Azura yang selalu mengekan setelan rok panjang dengan kemeja serta memakai kerudung tipis.

Azura dan Syifa menjadi lebih dekat sejak tahu bahwa mereka ditempatkan di kelas yang sama. Mereka memilih duduk bersebelahan di barisan paling depan. Syifa suka berbicara, sedangkan Azura lebih banyak diam—mendengarkan. Minggu pertama kuliah, mereka sudah mendapatkan banyak tugas. Membagi kelompok berdasarkan absensi untuk melakukan presentasi.

Meski jarang sekelompok, tapi Azura dan Syifa selalu mencari bahan tugas bersama-sama. Untuk pertama kalinya, Azura menginjakkan kaki di perpustakaan kampus. Ekspektasinya, akan ada banyak novel-novel di sana—seperti di perpustakaan SMA-nya dahulu. Namun, yang didapatkan hanyalah buku-buku agama, motivasi, pendidikan, dan lain-lain. Tak ada satu pun novel di sana. Jika tidak menemukan yang di cari, maka Syifa akan mengajaknya ke Medan.

Sejak masuk kuliah, Azura mulai memperbaiki ibadahnya. Interaksinya dengan Arman pun mulai berkurang. Dia sadar betul, kejadian yang dialaminya ini mungkin bentuk teguran dari Tuhan karena dahulu sempat melenceng dari jalan-Nya. Gagal masuk universitas impian, pacar malah mulai menjauh.

“Siapa yang memperbaiki salatnya, maka Allah akan perbaiki jalan hidupnya,” ucap Ustaz Abu—dosen mata kuliah Fikih Ibadah.

Pada mata kuliah ini mereka tak melakukan presentasi, hanya mencatat dan mengingat setiap penjelasan sang dosen. Ternyata, setiap gerakan salat itu terdapat banyak manfaat, seperti melancarkan aliran darah, peregangan otot bahkan terapi psikologis. Selama ini, dalam salatnya Azura selalu melakukan gerakan asal-asalan dan cenderung terburu-buru.

“Ketika sujud, jangan tempatkan telapak tangan sejajar dengan siku. Orang yang model salatnya begini, akan terlihat seperti seekor anjing ketika sedang beristirahat dan Rasulullah sangat tegas melarang kita melakukan gerakan salat yang menyerupai gerakan jenis binatang,” lanjut sang dosen.

Ustaz Abu memang terkenal memiliki ucapan yang pedas, tapi sangat mengena di hati para mahasiswanya. Buktinya, Azura merasa tersindir dengan penjelasan beliau.

“Seru banget, ya, penjelasan Ustaz Abu tadi! Selama ini kita ibadah hanya tahu itu bahwa kewajiban. Merasa sudah cukup ilmu padahal masih fakir ilmu,” ucap Syifa setelah kelas selesai.

Azura bingung bagaimana menanggapinya, ia hanya tersenyum, lantas mengangguk-angguk.

“Habis ini Azura ada acara, nggak? Temani Syifa ke Gramedia yang ada di Carrefour, yuk!” seperti biasa, sebulan sekali Syifa akan mengajak Azura berburu buku.

“Tumben! Biasanya di depan stasiun Medan,” tak pernah-pernahnya Syifa mengajak ke Carrefour.

“Syifa pengin cari suasana baru,” sambung Syifa cepat ketika menangkap raut penasaran pada wajah sahabatnya.

Di Binjai, hanya terdapat beberapa toko buku. Tidak seluas dan selengkap di Kota Medan. Harganya juga terjangkau. Itu sebabnya, Syifa lebih senang membeli buku di sana.

Tak lupa, Azura meminta izin pada bundanya. Ia tak pernah berbohong lagi mengenai kegiatannya di luar. Kecuali saat akan bertemu dengan Arman. Namun, sudah beberapa bulan ini ia tak pernah lagi bertemu dengan kekasihnya. Arman selalu membuat alasan ketika Azura meminta untuk ditemui.

Setelah mendapat izin, mereka langsung berangkat dengan mengendarai bus antar kota dan langsung turun tepat di depan Carrefour. Gegas berkeliling mencari apa yang dibutuhkan. Azura sendiri mengambil beberapa novel bergenre horor. Entah kenapa, belakangan ini ia sangat suka dengan yang berbau horor. Mulai dari membaca hingga menonton film.

Transaksi telah selesai dilakukan, saatnya mengisi kampung tengah yang penduduknya sudah meronta-ronta minta jatah. Mereka berniat mengunjungi salah satu cafe yang ada di sini. Dari jauh, Azura melihat sosok yang tak asing sedang bercumbu dengan seorang wanita. Jarak mereka kian dekat, Azura bisa memastikan bahwa penglihatannya tak salah.

Itu Arman, bersama wanita lain! Jemari mereka saling menggenggam. Sesekali sang wanita bersandar di pundak pria dan yang paling parah, mereka berciuman di depan umum—tepat di depan mata Azura.


Klik link-nya untuk mendapatkan kelengkapan cerita.

Link FB:

https://www.facebook.com/groups/291426671038978/permalink/1799471240234506/

Mampir juga ke KBM App dan subcribe cerita ini, ya.
https://kbm.id/book/detail/3199bf77-1178-43aa-cb60-77a14ba9fbf7?af=2b01882a-6377-26b2-9e4c-807e09d09733

CoffeeBook (Dari Candu jadi Rindu)

☕📖PART 1📖☕

.

.

“Bun, Azura dapat jalur undangan dari sekolah. Azura mau coba masuk Universitas Negeri Medan,” ucap Azura pada wanita paruh baya yang berada di hapadannya dengan wajah berseri-seri.

Yang diajak bicara, bukannya memperlihatkan raut wajah bangga malah terlihat bingung. Dahulu, abangnya juga menginginkan kuliah di universitas yang sama. Ia mencoba melalui jalur mandiri dan sudah mengeluarkan banyak biaya, tapi tak juga lulus. Akhirnya beralih ke Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan tanpa mencari tahu banyak tentang biaya yang akan dikeluarkan.

“Jalur undangan itu bagaimana?” tanya bundanya.

“Katanya, sih, pendaftaran nggak pakai biaya.”

“Pendaftarannya saja? Uang kuliahnya bagaimana? Nanti seperti abang kemarin, katanya satu setengah juta, rupanya per tiga bulan sekali. Bunda nggak mau hal seperti itu terulang lagi di kamu.”

“Azura belum tahu sampai sana, tapi nanti akan Azura cari tahu.”

“Haduh! Bunda nggak tahu, deh! Nanti bunda tanya ayah dahulu.”

Jawaban sang bunda barusan membuat Azura berkecil hati. Impiannya ingin mengambil gelar magister di Benua Biru terancam gagal. Bahkan, kesempatan untuk bersama pacarnya juga akan kandas. Meski belum pasti, Azura terus meyakinkan diri.

Sebagai anak kedua, terkadang dia sering mendapat perlakuan yang berbeda dari kedua orang tuanya. Terlebih, abang dan adik perempuannya memiliki kesamaan sifat serta selera yang sama. Azura sering merasa terpojokkan dan menganggap ini tidak adil. Meski begitu, Azura tidak pernah membantah mereka, walau hati sulit menerima. Namun, lama-kelamaan Azura menjadi lebih terbiasa.

Ada satu hal yang Azura tutupi dari keluarganya. Dia dilarang berpacaran sebelum masa putih abu-abunya selesai. Namun, yang namanya remaja tak bisa menahan rasa penasaran memiliki hubungan dengan lawan jenis. Apalagi semua teman-temannya berpasangan. Tak ingin tertinggal, Azura pun mengikuti jejak mereka. Berawal dari coba-coba malah menjadi keterusan.

Hampir setiap saat Azura berkutat dengan gawainya, hingga terkadang mengabaikan panggilan azan. Setelah ditegur bundanya barulah ia gegas ke kamar mandi, menghidupkan keran air untuk membasahi wajah, tangan, kaki dan ujung rambut dengan asal-asalan agar terlihat seperti habis berwudu. Setelah masuk ke kamar, ia tak pernah benar-benar melaksanakan kewajibannya. Malah rebahan di atas kasur dan asyik berselancar di dunia maya.

“Sudah salat?” tanya bundanya saat mendapati Azura tengah cengengesan menatap layar ponsel.

“Sudah!” Azura menjawab singkat bahkan tanpa menoleh.

Bundanya tak lagi bertanya-tanya—seakan percaya bahwa dia benar-benar sudah melakukannya. Kebohongan-kebohongan ini terus saja berulang. Memang benar kata orang-orang, sekali berbohong maka akan terus berlanjut kebohongan-kebohongan yang lain.

Misal, sepulang sekolah Azura tak pernah benar-benar mengerjakan tugas kelompok. Ia bersama teman-temannya sengaja bersenang-senang bersama pasangan masing-masing. Rumah Arman—pacar Azura—selalu menjadi basecamp mereka.

Azura tak pernah mau jika diajak ke mall atau ke tempat lain, karena kemungkinan untuk bertemu orang-orang yang ia kenal akan lebih besar. Bisa-bisa, kebohongannya selama ini akan terbongkar. Menurutnya, rumah Arman lah yang paling pas. Orang tua Arman sering keluar kota untuk mengurusi pekerjaan. Hanya ada seorang pembantu yang menemaninya dan akan selalu melayani mereka, apapun yang diinginkan.

[Bun, Azura pulang sore. Mau mengerjakan tugas kelompok di sekolah,] izin Azura pada bundanya lewat pesan singkat.

Lagi, bundanya selalu percaya dengan apa yang dikerjakan anaknya di luar sana. Di lingkungan rumah, Azura terkenal kurang bersosialisasi dengan masyarakat. Tak ada teman sebaya yang akrab dengannya. Satu-satunya teman sekolah Azura yang dipercaya bundanya adalah Tania, pacar Budi—sahabat baik Arman.

Tak ada yang tahu segala dosa yang kerap dilakukan Azura, kecuali Pak Sabar—guru mata pelajaran Ekonomi yang memiliki kemampuan indera ke-enam. Sialnya, setiap kali beliau menunjukkan kebolehannya selalu Azura yang menjadi korban.

“Agama kamu Islam?” tanya Pak Sabar setelah memanggil nama Azura lewat absen kelas.

“Iya, Pak,” jawab Azura terus menundukkan pandangan.

“Tadi pagi salat subuh?”

Azura menggeleng.

“Kemarin malam, salat isya, nggak?”

Azura menggeleng lagi.

“Maghrib?”

Sudah pasti Azura tetap menggeleng. Mau berbohong pun percuma, Pak Sabar akan tetap tahu. Azura tak punya pilihan lain, mau tak mau dia harus berkata jujur meski itu memalukan!

“Lagi datang bulan?”

“Nggak, Pak!” jawab Azura dengan nada pelan.

Pak Sabar menghela napas berat.

“Kalian tahu, nggak? Orang yang sengaja meninggalkan salat lima waktu, dosanya sangat besar! Bahkan lebih besar dari dosa membunuh, berzina, minum-minuman keras, mencuri dan merampas harta orang lain,” ucapannya kali ini tidak hanya ditujukan kepada Azura, tapi untuk seisi kelas.

Pandangan Pak Sabar menyapu ke sekeliling. Semua tertunduk dan suasana sangat hening. Dia melihat, masih banyak murid-muridnya yang meninggalkan salat. Sangat disayangkan, banyak yang mengaku beragama Islam, tapi tak mau menjalankan aturan-aturan di dalamnya.

Tatapannya kembali tertuju pada Azura yang terlihat sangat ketakutan. Jantungnya berpacu lebih cepat dan dia bisa merasakan itu. Merasa kasihan, ia mempersilakan Azura kembali ke mejanya.

“Sudah, silahkan duduk,” titahnya.

Azura melangkahkan kakinya dengan gontai dan terus menunduk. Begitu pun dengan Tania yang tak berani mengangkat kepalanya karena takut dipanggil ke depan dan dibongkar aib-aibnya. Tak lupa, Pak Sabar menutup pembelajaran dengan nasihat yang dapat membuka pikiran mereka.

Sangking takutnya dengan Pak Sabar, setiap kali jadwal pelajaran Ekonomi tiba, Azura benar-benar melaksanakan salat. Takut kalau-kalau dirinya dipanggil seperti yang sudah-sudah dan dibongkar lebih banyak aibnya.

Bahkan, Azura lebih takut dengan gurunya daripada Tuhannya.


Cek kelengkapannya di grup Facebook LovRinz and Friends (Penerbit Buku), ya, guys 😍

Link:

https://www.facebook.com/groups/291426671038978/permalink/1798806586967638/

Mampir juga ke KBM App dan jangan lupa subcribe cerita ini 💕

Link:

https://kbm.id/book/detail/3199bf77-1178-43aa-cb60-77a14ba9fbf7

Terima kasih 🤗

[11] 30 Hari Bercerita

(11/30) AKHIR PERJALANAN

Petualanganmu sudah selesai, Kawan.
Saatnya kembali ke peraduan.
Ucapkan selamat tinggal pada mereka.
Saatnya kau bersenang-senang di alam sana.

Perjalananmu sudah selesai.
Meski kau tak pernah sampai pada tujuan.
Ada tempat lain yang menunggumu di sana.

Senyuman itu kini menghilang dari pandangan.
Digantikan rona ketakutan.
Gelak tawa menjadi terbungkam.
Digantikam zikir penuh mengingat Tuhan.
Tangisan kian menggema.
Dari bibir mungil makhluk kecil tak berdosa.
Hingga dentuman itu terdengar.
Menandakan akhir dari perjalanan.
————————————————————
Rest In Peace Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta menuju Pontianak
Al-Fatihah untuk saudara-saudara kita.
.
.
@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30bmhbc2111 #catatansenjabiru #akhirperjalanan #restinpeacesriwijayaair

[10] 30 Hari Bercerita

(10/30) HIBURAN MASA KECIL

Tahun 2017, aku pernah menuliskannya di blog. Tentang permainan masa kecil yang cukup menjadi hiburan kala itu. Ada tiga permainan yang kutulis.

Pertama, engklek.
👉 Hampir sepanjang hari aku memainkannya. Biasanya pagi hari, sebelum memulai pelajaran di sekolah, bersama teman-teman sekelas atau adik atau kakak kelas.

Kedua, kerang dan batu serimbang.
👉 Permainan ini sering kumainkan sendiri di rumah. Bahkan, sampai hari ini kalau sedang iseng.

Ketiga, Patok Lele.
👉 Untuk permainan ini, sebenarnya aku tak terlalu pandai, tapi punya kesan sendiri ketika memainkannya bersama Abang.

Selain ketiga permainan di atas, aku sering memainkan boneka. Membuatkan mereka rumah-rumahan, memakaikan mereka baju. Aku tak pernah bisa lepas dari boneka. Bahkan, sampai sekarang. Menjadikan boneka sebagai teman curhat, menjadi hal biasa yang sering kulakukan.


@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2110 #30hbc21masakecil #catatansenjabiru

Blog di WordPress.com.

Atas ↑